SLEMAN - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Sleman mencapai 13.313 kasus sepanjang Januari–September 2026. Udara kering dan debu selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang berisiko meningkatkan gangguan pernapasan di masyarakat.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Raditya Kusuma Tejamurti mengatakan, tren peningkatan kasus ISPA pada 2025 terjadi mulai Agustus hingga November. Pola peningkatan juga mulai terlihat pada 2026 hingga September.
"Penyebab peningkatan kasus ISPA di antaranya karena udara kering dan debu," katanya saat dihubungi Minggu (18/10).
Berdasarkan catatan Dinkes Sleman, jumlah kasus ISPA sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 21.040 kasus. Sementara itu, selama sembilan bulan pertama 2026, tercatat 13.313 kasus.
Baca Juga: BMR Ikut Bantu Korban Kecelakaan Suporter PSS Sleman dengan Kirim Tim dan Ambulans ke Madiun
Raditya menjelaskan, kelembapan udara yang rendah dapat membuat selaput lendir saluran pernapasan mengering sehingga lebih mudah mengalami iritasi akibat debu. Risiko tersebut juga dapat meningkat akibat polusi udara dari emisi kendaraan, asap kebakaran, dan pembakaran sampah. Minimnya curah hujan selama kemarau turut menyebabkan polutan bertahan di udara.
Selain faktor kualitas udara, cuaca panas ekstrem dan dehidrasi ringan juga dapat memengaruhi daya tahan tubuh. Termasuk mekanisme perlindungan saluran pernapasan.
Untuk mengurangi risiko ISPA, Raditya mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di tengah paparan debu dan polusi. Masyarakat juga diminta memperbanyak konsumsi air putih, menjaga asupan nutrisi, serta mencukupi waktu istirahat.
Baca Juga: Barcelona Samai Rekor Start Terbaik Sepanjang Sejarah La Liga, Hansi Flick Puji Lamine Yamal
"Kami imbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan yang dapat memperburuk kualitas udara sekitar," tegasnya.
Dinkes Sleman juga telah menyosialisasikan langkah pencegahan dan kewaspadaan menghadapi kemarau panjang melalui rapat dinas bulanan yang dihadiri 25 kepala Puskesmas. Sosialisasi tersebut mencakup kewaspadaan terhadap sejumlah penyakit yang berpotensi meningkat selama musim kemarau.
Raditya mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan dan segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan. "Segera periksa jika muncul gejala sakit batuk, pilek, maupun demam," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita