Gempa Guguran Merapi Capai 59 Kali, Warga DIY dan Jawa Tengah Dilarang Mendekat

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 05:26 WIB
ILUSTRASI: Kabar Terbaru Gunung Merapi: Status Siaga, Ancaman Awan Panas Mengintai
ILUSTRASI: Kabar Terbaru Gunung Merapi: Status Siaga, Ancaman Awan Panas Mengintai

 

SLEMAN - Geliat aktivitas vulkanik di perut Gunung Merapi kembali memperlihatkan dinamika yang patut diwaspadai bersama. Gunung api megah yang membentang di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini terus melepaskan energi dalamnya secara konstan melalui rentetan guncangan dan guguran material.

​Suasana tenang di kawasan lereng kerap terpecah oleh gemuruh runtuhan batu dari bukaan puncak kawah. Berdasarkan hasil pengamatan visual terkini, Puncak Merapi tampak cukup jelas, meski sesekali diselimuti oleh hamparan kabut tipis yang bergerak perlahan mengikuti arah angin.

​Petugas pemantau mencatat setidaknya ada enam kali guguran lava pijar yang meluncur deras menyusuri tebing terjal. Lava membara tersebut meluncur tajam menuju sektor barat daya, dengan jarak luncuran maksimum mencapai dua ribu meter dari bukaan kawah aktif.

​Aliran lava pijar tersebut melintasi sejumlah alur sungai utama yang berhulu langsung di puncak raksasa ini. Jalur yang terlintasi bahaya meliputi kawasan Kali Sat, Kali Putih, Kali Krasak, serta menyusuri alur terjal Kali Boyong secara intensif.

​Secara visual, asap kawah bertekanan lemah teramati membumbung anggun di atas kubah puncak. Asap tipis berwarna putih bersih tersebut mengangkasa setinggi lima puluh hingga seratus meter sebelum akhirnya tersapu angin berkecepatan lemah ke arah utara.

​Rekaman alat kegempaan mengonfirmasi bahwa gejolak di dalam perut Merapi masih sangat tinggi dan fluktuatif. Gempa guguran mendominasi rekaman instrumen dengan frekuensi puluhan kali kejadian, menunjukkan pelepasan energi runtuhan yang berlangsung tiada henti sepanjang hari.

​Selain itu, instrumen pemantau merekam puluhan gempa fase banyak dan fenomena gempa vulkanik dangkal. Kemunculan rentetan gempa ini mengindikasikan bahwa proses dinamika fluidisasi dan suplai magma baru dari kedalaman bumi masih berlangsung sangat aktif hingga saat ini.

​Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi menetapkan tingkat aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level Tiga atau Siaga. Penetapan status ini mempertegas bahwa potensi bahaya erupsi susulan sewaktu-waktu masih berpeluang besar untuk terjadi.

​Potensi bahaya utama yang diwaspadai saat ini berupa guguran lava pijar dan ancaman awan panas guguran. Sektor selatan hingga barat daya menjadi area paling rawan yang berisiko diterjang oleh material panas bersuhu tinggi jika letupan besar melanda.

​Jangkauan ancaman pada aliran Sungai Boyong ditetapkan sejauh lima kilometer, sedangkan Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng mencapai tujuh kilometer. Adapun pada sektor tenggara, potensi luncuran awan panas membayangi sepanjang aliran Sungai Woro dan Sungai Gendol.

​Masyarakat di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten dilarang keras beraktivitas di dalam zona bahaya tersebut. Warga juga diimbau ekstra waspada terhadap ancaman bahaya lahar hujan yang dapat menerjang sewaktu-waktu ketika hujan deras melanda puncak.

​Langkah antisipasi terhadap sebaran abu vulkanik juga harus terus disiapkan demi menjaga kesehatan pernapasan. Kesiapsiagaan warga serta kepatuhan terhadap rekomendasi resmi menjadi benteng penyelamat terbaik dalam mengantisipasi setiap perubahan karakter dari Gun ung Merapi.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Gunung Merapi BPPTKG Erupsi Merapi Berita Yogyakarta Info Bencana