SLEMAN - Aktivitas perut Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada Jumat (16/10/2026) siang, puncaknya kembali memperlihatkan geliat berupa luncuran lava pijar.
Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, luncuran terjadi ke arah barat daya. Material panas tersebut mengalir mengular menuju alur Kali Krasak.
Petugas mencatat jarak luncur maksimum guguran lava tersebut mencapai 1.500 meter. Peristiwa ini menjadi pengingat nyata bahwa ancaman bahaya di lereng Merapi masih terus mengintai.
Secara visual, puncak gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini sempat terlihat cukup jelas. Meski sesekali diselimuti kabut tipis, hembusan asap kawah utama teramati nihil.
Namun, di balik ketenangan kawahnya, denyut kegempaan di dalam tubuh gunung justru terasa sangat dinamis. Alat perekam seismik mencatat puluhan kali getaran sepanjang enam jam pengamatan.
Petugas BPPTKG mencatat sebanyak 25 kali gempa guguran terjadi pada periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Amplitudo getaran berkisar antara 2 hingga 26 milimeter.
Selain guguran, terekam pula delapan kali gempa fase banyak atau hybrid. Fenomena ini mengindikasikan adanya tekanan serta pergerakan fluida magma yang terus mendorong ke permukaan kawah.
Dua kali gempa vulkanik dangkal dan satu gempa tektonik jauh turut melengkapi catatan kegempaan siang ini. Kondisi ini mempertegas bahwa suplai magma segar dari perut bumi belum sepenuhnya terhenti.
Tingkat aktivitas Gunung Merapi pun hingga saat ini masih dipertahankan pada Level III atau Siaga. Petugas pengamat terus mewanti-wanti masyarakat agar tidak meremehkan potensi bahaya yang ada.
Zona bahaya utama berada di sektor selatan hingga barat daya. Alur Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng menjadi area yang wajib dihindari dengan radius hingga tujuh kilometer.
Sektor tenggara seperti Sungai Woro dan Gendol juga tetap memiliki risiko sapuan material vulkanik. Jika letusan eksplosif mendadak terjadi, lontaran material bisa menjangkau radius tiga kilometer.
Mumpung ancaman lahar dingin dan awan panas guguran masih membayangi, warga di lereng gunung diminta tetap tenang. Kewaspadaan ekstra sangat diperlukan, terlebih jika hujan mulai mengguyur kawasan puncak.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG