SLEMAN - Di tengah cuaca berawan pada Minggu sore, 12 Oktober 2026, Gunung Merapi justru menampakkan diri dengan jelas. Namun kejelasan visual itu berbanding terbalik dengan gejolak di dalam tubuhnya. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas seismik yang cukup tinggi selama periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB.
Laporan yang disusun oleh Rachmad Widyo Laksono ini mencatat kondisi meteorologi yang relatif bersahabat. Angin bertiup tenang ke arah utara, suhu udara berada di kisaran 19,9 hingga 22 derajat Celcius. Kelembaban udara tercatat 58 hingga 84,4 persen dengan tekanan udara 874,8 sampai 917 mmHg, cukup nyaman untuk wilayah pegunungan.
Secara visual, Merapi terlihat jelas dari pos pengamatan. Tidak ada halangan kabut tebal seperti hari sebelumnya. Namun menariknya, asap kawah teramati nihil. Tidak ada hembusan putih yang membumbung dari puncak. Fenomena ini justru sering menjadi tanda bahwa energi sedang tertahan dan terkonsentrasi di dalam, bukan menghilang.
Bukti bahwa Merapi belum tidur datang dari alat seismograf. Selama enam jam sore itu, tercatat sebanyak 17 kali gempa guguran dengan amplitudo cukup besar, 2 hingga 47 milimeter. Durasinya pun cukup panjang, antara 76 hingga 162 detik. Ini menandakan adanya material kubah lava yang terus bergerak dan runtuh perlahan.
Puncaknya adalah gempa Hybrid atau Fase Banyak yang melonjak signifikan. Tercatat 27 kali gempa hybrid dengan amplitudo 2-45 mm. Jumlah ini lebih tinggi dibanding periode pagi dan siang sebelumnya. Gempa hybrid adalah sinyal paling jujur bahwa suplai magma dari dapur magma dalam masih terus mendorong ke atas, berusaha mencari jalan keluar.
Tidak hanya gempa vulkanik, dua kali gempa Tektonik Jauh juga terekam dengan amplitudo 4-24 mm dan durasi hingga 116 detik. Meski sumbernya jauh dari Merapi, getaran tektonik terkadang bisa mempengaruhi kestabilan sistem magma. Kehadiran gempa ini menambah catatan dinamika sore ini menjadi total 46 kejadian seismik, meski secara vulkanik murni ada 44 kejadian.
Melihat data tersebut, BPPTKG menegaskan bahwa Tingkat Aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini dipertahankan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memastikan semua pihak menjaga jarak aman. Suplai magma yang masih berlangsung bisa memicu awan panas guguran kapan saja di dalam daerah potensi bahaya.
Potensi bahaya yang ditetapkan hingga sore ini masih sama dan harus benar-benar dipatuhi. Di sektor selatan-barat daya, bahaya guguran lava dan awan panas meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Ini adalah jalur-jalur yang sudah berulang kali menjadi lintasan awan panas Merapi.
Sedangkan di sektor tenggara, potensi bahaya berada di Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer. Selain itu, masyarakat juga harus ingat bahwa lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif bisa menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Radius ini harus steril dari aktivitas apapun, termasuk pendakian.
Imbauan pun kembali ditegaskan dengan penuh kepedulian. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Biarkan Merapi bekerja dengan alaminya tanpa ada nyawa yang terancam. Keselamatan warga adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Warga di lereng juga diminta untuk mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di seputar Merapi. Hujan bisa menyeret material vulkanik menjadi banjir lahar dingin yang berbahaya. Antisipasi gangguan akibat abu vulkanik juga harus disiapkan, seperti penggunaan masker dan penutup sumber air.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, BPPTKG akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas Merapi dan mengumumkannya melalui kanal resmi. Untuk saat ini, mari terus pantau informasi valid hanya dari KESDM, Badan Geologi, PVMBG melalui laman http://magma.esdm.go.id dan media sosial resmi PVMBG di http://linktr.ee/PVMBG.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG