Merapi Gugurkan Lava 2 Km ke Barat Daya, Puluhan Gempa Vulkanik Terekam Pagi Ini

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 06:39 WIB
ILUSTRASI: Gunung Merapi Luncurkan 4 Kali Guguran Lava ke Barat Daya, Status Masih Siaga
ILUSTRASI: Gunung Merapi Luncurkan 4 Kali Guguran Lava ke Barat Daya, Status Masih Siaga

 SLEMAN - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Senin (12/10/2026) pagi. Dalam periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, petugas mencatat dua kali guguran lava yang meluncur ke sektor barat daya dengan jarak luncur maksimum mencapai 2 kilometer. Aktivitas ini menjadi pengingat bahwa gunung api paling aktif di Indonesia tersebut masih berada dalam fase yang harus diwaspadai.

Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), guguran lava mengarah ke hulu Kali Krasak dan Kali Boyong. Meski belum melampaui zona potensi bahaya yang telah ditetapkan, fenomena ini menunjukkan pasokan magma di dalam tubuh Merapi masih berlangsung.

Selama enam jam pengamatan, cuaca di kawasan puncak didominasi kondisi mendung dengan angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara tercatat berkisar antara 17,5 hingga 19 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban yang sangat tinggi, mencapai 98 hingga 99 persen.

Kondisi cuaca tersebut menyebabkan puncak gunung beberapa kali tertutup kabut. Akibatnya, pengamatan visual tidak berlangsung optimal dan asap kawah tidak dapat teramati secara langsung dari pos pemantauan.

Dari sisi kegempaan, aktivitas internal Merapi masih cukup intens. Petugas merekam 20 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 36 milimeter dan durasi mencapai lebih dari tiga menit pada sejumlah kejadian.

Selain itu, tercatat pula 19 kali gempa hybrid atau fase banyak. Gempa jenis ini umumnya berkaitan dengan pergerakan fluida dan material magma di dalam gunung. Durasi gempa berlangsung antara 14 hingga 46 detik dengan amplitudo maksimum 32 milimeter.

Aktivitas lain yang turut terekam adalah satu kali tremor harmonik dengan amplitudo 45 milimeter dan durasi lebih dari 80 detik. Tremor harmonik sering menjadi indikator adanya dinamika tekanan dan aliran material di saluran magma.

Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa sistem vulkanik Merapi masih aktif bekerja di bawah permukaan. Karena itu, para ahli terus melakukan pemantauan secara intensif guna mengantisipasi kemungkinan perubahan aktivitas yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Hingga laporan ini diterbitkan, status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut menandakan aktivitas vulkanik masih berada di atas normal dan masyarakat diminta untuk tidak memasuki kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.

BPPTKG menjelaskan bahwa ancaman utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran pada sektor selatan hingga barat daya. Potensi bahaya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, sedangkan Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng berpotensi terdampak hingga radius 7 kilometer dari puncak.

Di sektor tenggara, ancaman yang perlu diwaspadai berada di sekitar Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer serta Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Sementara apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik berpotensi terlontar dalam radius 3 kilometer dari kawah.

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Merapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar hujan, terutama ketika curah hujan meningkat di daerah lereng gunung. Selain itu, gangguan akibat abu vulkanik sewaktu-waktu dapat terjadi apabila aktivitas erupsi mengalami peningkatan. Selama pasokan magma masih terdeteksi berlangsung, Merapi tetap menjadi gunung yang perlu dipantau dengan penuh k ewaspadaan.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Sleman Gunung Merapi BPPTKG aktivitas vulkanik guguran lava