SLEMAN - Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Amarta memiliki lini usaha tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R). Pengolahan berkapasitas dua ton per hari ini jadi upaya untuk menuntaskan persoalan sampah di Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman.
Direktur Bumkal Amarta Pandowoharjo, Agus Setyanta menerangkan, TPS3R ini hadir dengan tetap memaksimalkan partisipasinya masyarakat dan kelembagaan Pandowoharjo sendiri. Jadi, tidak semua jenis sampah bisa masuk karena tetap ada proses pemilahan dan pengelolaan di tiap-tiap padukuhan. Ketika nantinya tidak bisa ditindaklanjuti, seperti ada sampah organik tidak bisa disalurkan, baru dialihkan ke TPS3R.
"Bisa untuk pakan maggot, kalau enggak bisa karena berupa ranting gitu, kami giling jadi kompos," katanya, Minggu (11/10).
Baca Juga: Asrama Toraja di Sleman Terbakar, Kerugian Ditaksir Mencapai Rp 30 Juta, Penyebab Masih Diselidiki
TPS3R BUMKal Amarta Pendowoharjo ini juga bisa menuntaskan persoalan sampah jenis residu, seperti pembalut dan pamper. Lini usaha ini penting karena sampah tersebut tidak laku dijual layaknya kebanyakan sampah anorganik dan sulit terurai. Nantinya akan dilakukan pembakaran dengan insinerator hingga habis total. Untuk bisa mengakses ini ada layanan berbayar yang diterapkan sebesar Rp 35.000 per kubik sehingga jadi pemasukan bagi BUMKal sendiri.
Menurut Agus, TPS3R ini juga menerima proses pengolahan sampah tanpa dipilah dengan target market para pemilik usaha. Harga yang dikenakan Rp 80.000 sampai Rp 100.000. Dengan angka-angka ini dia menilai pengelolaan sampah oleh BUMKal sejatinya bisa menjadi ladang bisnis tersendiri. Termasuk jadi peluang bagi mereka yang tengah kesulitan mencari pekerjaan.
"Harapan kami tentu agar layanan sampah bisa semakin luas," imbuhnya.
Baca Juga: Distribusi MBG 3B di Purwomartani Tersendat, Kader Keberatan Mengantar Makanan hingga Tiga Kilometer
Targetnya ini adalah bisa membuat berbagai produk turunan sampah menjadi lebih beragam. Misalnya, tidak sebatas kompos biasa, tetapi kompos super sehingga nilai jualnya lebih tinggi. Begitu juga dengan maggot tidak hanya bisa menjual dalam bentuk segar, tetapi dalam bentuk tepung atau sudah dioven. Untuk nantinya bisa menjadikan BUMKal sebagai tempat edukasi pengelolaan sampah sederhana.
"Kami ingin menunjukkan pengelolaan sampah itu bisa diselesaikan dengan biaya yang cukup murah, peralatan yang tidak terlalu mahal, dan bisa direplikasi di skala desa," tandasnya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita