SLEMAN - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitasnya di Minggu pagi yang cerah. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan adanya 4 kali guguran lava yang meluncur dari puncak pada periode pengamatan 11 Oktober 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Status gunung teraktif di Indonesia ini pun masih bertahan di Level III Siaga.
Laporan yang disusun oleh Alzwar Nurmanaji, http://A.Md ini memberikan gambaran visual yang cukup jelas. Berbeda dengan hari sebelumnya yang tertutup kabut, pagi ini Merapi terlihat gagah dengan jelas. Cuaca cerah menyelimuti puncak, angin bertiup tenang ke arah tenggara, dengan suhu udara sejuk di kisaran 17,3 hingga 19,7 derajat Celcius.
Dari puncak kawah, teramati asap bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tipis, menjulang setinggi 10 hingga 15 meter di atas kawah. Asap tipis ini menjadi penanda bahwa aktivitas hembusan gas masih berlangsung pelan, namun energi di dalam perut gunung tetap besar dan tidak bisa dianggap remeh.
Kegempaan yang tercatat selama enam jam pengamatan dini hari itu cukup intens. Seismograf mencatat 21 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 25 milimeter dan durasi terlama mencapai lebih dari 3 menit. Getaran ini adalah respons dari material lava yang terus bergerak turun dari kubah.
Selain itu, ada 17 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 2-32 mm. Gempa hybrid ini menjadi indikator penting adanya suplai magma dari dalam. Meski jumlahnya lebih sedikit dibanding kemarin, frekuensi ini tetap menunjukkan Merapi masih dalam fase aktif membangun kubah lava baru.
Baca Juga: Prediksi Skor Hull City vs Everton di Liga Inggris, Menanti Kembali Magis The Tigers
Puncak aktivitas pagi ini adalah teramatinya 4 kali guguran lava yang meluncur ke arah Barat Daya. Aliran panas ini mengarah ke hulu Kali Krasak, Kali Sat atau Kali Putih, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1800 meter. Di keheningan pagi, luncuran lava pijar ini tentu menjadi pemandangan yang menakjubkan sekaligus menggetarkan.
Melihat data tersebut, BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma masih terus berlangsung di dalam tubuh Merapi. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu di dalam daerah potensi bahaya. Oleh karena itu, status Siaga tidak bisa diturunkan dalam waktu dekat tanpa evaluasi menyeluruh.
Potensi bahaya yang ditetapkan pun masih sama. Untuk sektor selatan-barat daya, ancaman guguran lava dan awan panas meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 kilometer. Ini adalah jalur-jalur yang menjadi langganan aliran awan panas.
Sementara untuk sektor tenggara, potensi bahaya berada di Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan bisa menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Masyarakat diminta untuk tidak meremehkan jarak ini.
Baca Juga: Unik! SD Alam Al Marina Hadirkan Konsep Belajar Bertani hingga Memasarkan, Begini Konsepnya..
BPPTKG kembali mengingatkan dengan tegas agar masyarakat tidak melakukan kegiatan apapun di dalam daerah potensi bahaya. Larangan ini berlaku untuk warga, pendaki, hingga penambang pasir. Keselamatan adalah yang utama, dan patuh pada rekomendasi adalah bentuk perlindungan diri.
Warga di sekitar Merapi juga diminta untuk selalu waspada terhadap bahaya lahar dingin dan awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di seputar puncak. Hujan dapat memicu banjir lahar yang membawa material vulkanik dalam volume besar. Antisipasi terhadap hujan abu vulkanik juga perlu dilakukan.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, BPPTKG akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas Gunung Merapi. Untuk saat ini, mari kita terus memantau informasi resmi dari KESDM, Badan Geologi, dan PVMBG melalui laman http://magma.esdm.go.id dan tetap siaga den gan hati yang tenang.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG