SLEMAN - Pelaksanaan uji coba program makan bergizi gratis (MBG) secara prasmanan menuai sorotan karena melibatkan siswa sebagai petugas pemorsian. Kondisi ini terjadi di SD Negeri Soprayan Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Sleman. Mekanisme itu dinilai berpotensi melanggar hak pendidikan anak.
Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Sleman Hening Sucahya menjelaskan, pelibatan peserta didik sebagai relawan pemorsian justru jadi karakteristik utama dan keunggulan MBG prasmanan dengan lima tujuan utama. Salah satunya agar jam makan bisa dimanfaatkan langsung untuk menanamkan nilai kedisiplinan, kebersihan, tanggung jawab, dan kebiasaan makan sehat kepada siswa.
"Hal ini bertujuan untuk integrasi edukasi gizi dan karakter," katanya saat dihubungi, Kamis (8/10/2026). Keterlibatan aktif peserta didik ini dikatakan bertujuan untuk mengajak siswa bertanggung dalam proses pemorsian makanan maupun memelihara kebersihan lingkungan kelas.
Baca Juga: Kepala Disdikpora DIY Sebut Tak Perlu Libatkan Siswa, Pemorsian MBG Sebaiknya Ditangani BGN
Siswa juga bisa dibiasakan untuk mengambil porsi makanan sesuai dengan kebutuhan, sehingga dapat mengurangi sisa makanan yang terbuang.
Hening menegaskan, saat bertugas menjadi petugas pemorsian siswa dilatih untuk menerapkan standar kebersihan yang ketat pada tahap sebelum, selama, dan setelah proses makan. Hal ini jadi bagian dari pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Proses itu dia nilai jadi upaya memupuk rasa kebersamaan dan gotong royong antar-siswa melalui aktivitas makan bersama di satuan pendidikan. Seluruh proses pemorsian oleh siswa dia sebut tetap berada di bawah pengawasan ketat guru serta petugas SPPG.
Baca Juga: Awan Mendung Selimuti Merapi, Ancaman Awan Panas Masih Mengintai
"Hal ini untuk memastikan standar higiene sanitasi dan kebersihan peralatan tetap terlindungi dari risiko kontaminasi," terangnya.
Model penyajian MBG di SPPG Sleman Turi Bangunkerto 2 sebagai lokasi pilot projek prasmanan, dia sebut dikembangkan untuk menjawab tantangan keamanan pangan, ketepatan waktu distribusi, dan pengendalian sisa makanan.
Menurut Hening, model prasmanan ini mengadopsi pembelajaran mendalam dari sistem makan siang sekolah di Jepang melalui konsep kyūshoku atau integrasi pemenuhan gizi dan shokuiku atau pendidikan gizi. Pelaksanaannya didukung secara teknis oleh Japan International Cooperation Agency dan disesuaikan dengan ketentuan penyelenggaraan MBG serta sistem pendidikan di Indonesia.
Disinggung soal perluasan mekanisme, dia belum memberikan pemaparan detail. Hening mengungkapkan fokus utama saat ini adalah melaksanakan uji coba secara aman, tertib, dan seragam sesuai standar operasi.
Baca Juga: Kustomfest 2026 'High Octane': Ajang Pembuktian Karya Builder Lokal ke Kancah Dunia
Jalannya uji coba ini akan dicatat dan dilaporkan secara ketat sebagai bahan evaluasi menyeluruh. "Hasil evaluasi ini akan jadi landasan untuk menyempurnakan model layanan agar inovasi MBG prasmanan ini dapat diadopsi dalam pelaksanaan program MBG secara nasional," tambah Hening.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman sekaligus Ketua Satgas MBG Sleman Abu Bakar menjelaskan, pelibatan siswa jadi petugas pemorsian ini memang telah diatur dalam Buku Panduan Pelaksanaan Pilot Project MBG Prasmanan yang diterbitkan Badan Gizi Nasional (BGN). Secara jelas dituliskan peserta didik terlibat aktif dalam proses pemorsian makanan dan pemeliharaan kebersihan lingkungan kelas. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja