SLEMAN - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih terus menunjukkan geliatnya. Berdasarkan laporan pengamatan terbaru, gunung api ini kembali meluncurkan guguran lava yang patut diwaspadai oleh masyarakat di lereng gunung.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat adanya empat kali guguran lava selama periode pengamatan penuh pada 5 Oktober 2026. Guguran material vulkanik tersebut terpantau meluncur bebas menyusuri lereng ke arah barat daya.
Jarak luncur maksimum dari guguran lava ini dilaporkan mencapai 2.000 meter atau sekitar 2 kilometer dari kawasan puncak. Material vulkanik tersebut mengarah tepat ke alur Kali Sat atau Kali Putih, yang memang menjadi salah satu jalur utama aliran material Merapi.
Dengan rentetan aktivitas vulkanik yang masih cukup tinggi tersebut, status Gunung Merapi saat ini masih dipertahankan pada Level III atau Siaga. Masyarakat setempat diminta untuk tidak menganggap remeh ketetapan status ini karena potensi bahaya masih mengintai sewaktu-waktu.
Secara visual, kondisi Gunung Merapi terpantau cukup jelas meski sesekali tertutup oleh kabut tipis hingga sedang. Asap kawah berwarna putih juga terlihat mengepul dengan tekanan lemah, mencapai ketinggian sekitar 100 meter di atas puncak kawah yang menandakan masih adanya pelepasan gas.
Sementara itu, cuaca di sekitar kawasan puncak dilaporkan sangat bervariasi, mulai dari cerah, berawan, hingga mendung. Suhu udara di sekitar gunung tercatat cukup dingin, yakni di kisaran 17,1 hingga 26,8 derajat Celcius dengan embusan angin yang bertiup lemah ke arah barat.
Data kegempaan yang terekam oleh instrumen pemantau juga mengonfirmasi tingginya aktivitas di bawah permukaan kawah. Gempa guguran tampak mendominasi dengan jumlah mencapai 75 kali kejadian dalam kurun waktu 24 jam terakhir, menunjukkan rapuhnya material di area kubah lava.
Selain gempa guguran, pihak BPPTKG juga merekam terjadinya 85 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta 11 kali gempa vulkanik dangkal. Dua kali gempa tektonik jauh juga turut melengkapi catatan seismik Gunung Merapi pada periode pengamatan ini.
Rentetan gempa fase banyak dan vulkanik dangkal ini menjadi indikator penting bagi para ahli vulkanologi. Data seismik tersebut menunjukkan secara jelas bahwa suplai magma segar dari dalam perut bumi masih terus berlangsung hingga saat ini.
Kondisi suplai magma yang aktif ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran secara tiba-tiba di dalam daerah potensi bahaya. Oleh karena itu, rekomendasi jarak aman yang dikeluarkan menjadi panduan vital yang harus dipatuhi dengan disiplin oleh seluruh warga sekitar.
Potensi bahaya saat ini mengancam sektor selatan dan barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius 7 kilometer. Sementara untuk sektor tenggara, ancaman mencakup area Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer.
Masyarakat luas sangat diimbau untuk segera menghentikan segala bentuk aktivitas di dalam zona bahaya yang telah dipetakan tersebut. Warga juga diminta untuk selalu mewaspadai ancaman bahaya aliran lahar dingin saat hujan lebat turun, serta menyiapkan masker untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG