SLEMAN - Sekitar 600 galon bekas yang semula menjadi sampah kini berubah menjadi laboratorium pembelajaran di SD Negeri Purwosari, Sinduadi, Mlati, Sleman. Di dalamnya tumbuh tomat, kangkung, kacang panjang, hingga cabai. Sebagian galon lainnya digunakan sebagai media budi daya lele.
Tak hanya memanfaatkan sampah galon, sekolah juga mengembangkan peternakan unggas di belakang gedung sekolah. Seluruh kegiatan tersebut menjadi bagian dari program edukasi ketahanan pangan yang melibatkan sekitar 65 siswa.
Program yang baru diluncurkan pada Juli 2026 itu mengintegrasikan pertanian, perikanan, dan peternakan dengan prinsip zero waste. Siswa tidak hanya belajar menanam, tetapi juga merawat, memanen, mengolah hasil pangan, hingga memanfaatkan kembali limbah yang dihasilkan.
“Program ini baru kami launching bulan Juli. Sekarang baru panen perdana,” beber Kepala Sekolah SD Negeri Purwosari Zaenuri saat ditemui di ruang kerjanya Senin (5/10).
Baca Juga: JPW Dorong Pungli dan Jukir Nuthuk Wajib Ditindak Tegas Saat Wayang Jogja Night Carnival
Dia mengatakan, program tersebut dibuat untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pertanian, peternakan, dan perikanan dinilai penting dikenalkan kepada siswa sebagai keterampilan praktis.
Selain itu, lanjutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi variasi pembelajaran agar siswa tidak terus-menerus belajar di dalam kelas. Program edukasi ketahanan pangan diselaraskan dengan kurikulum sekolah.
Siswa memiliki jadwal khusus untuk menanam. Pada hari-hari lainnya, mereka bergiliran melakukan perawatan melalui jadwal piket yang telah disusun sekolah.
Menariknya, sebagian besar sarana program berasal dari sampah sekolah. Zaenuri mengatakan setiap tiga hari sekali terdapat sekitar tujuh galon yang menjadi sampah. Saat mulai menjabat sebagai kepala sekolah pada April lalu, bahkan ditemukan sekitar 150 galon menumpuk di belakang sekolah.
Baca Juga: Susunan Pemain Resmi Timnas Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Ole Romeny Starter
Daripada dibuang, galon-galon tersebut dimanfaatkan sebagai wadah budi daya. Sampah organik juga diolah kembali. Daun-daun di sekitar sekolah digunakan sebagai bahan pupuk, sedangkan sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipilah untuk dijadikan kompos, pakan lele, maupun pakan ternak.
Dengan konsep tersebut, siswa belajar bahwa limbah masih dapat memiliki nilai guna sekaligus menjadi bagian dari siklus produksi pangan. Hasil panen kemudian kembali masuk ke ruang belajar. Sayuran yang ditanam siswa digunakan sebagai bahan dalam kelas memasak. Setiap kelas diminta mengolah makanan dari tanaman yang mereka budidayakan sendiri.
Hasil panen juga dimanfaatkan sebagai hadiah dalam berbagai kegiatan sekolah. Saat lomba Agustusan, Maulid Nabi, hingga peringatan Hari Olahraga Nasional, hadiah tidak selalu berupa alat tulis. Siswa bisa membawa pulang hasil tanaman pangan yang mereka rawat sendiri.
“Memang sangat lumayan. Satu galon itu bisa berbuah sampai lima terong,” ujar Zaenuri.
Bagi sekolah, program tersebut bukan semata mengejar hasil panen. Proses menanam hingga mengolah makanan menjadi sarana untuk menumbuhkan penghargaan siswa terhadap pangan sekaligus menambah keterampilan praktis.
Zaenuri berharap program tersebut dapat berkelanjutan dan berkembang. Sekolah kini menjajaki kolaborasi dengan sejumlah fakultas pertanian untuk memperkuat pengelolaan program.
Ke depan, SD Negeri Purwosari juga berencana mengembangkan fasilitas berupa greenhouse agar tanaman lebih terlindungi dari perubahan cuaca. Sekolah berharap area tersebut dapat berkembang menjadi laboratorium lapangan yang lebih lengkap bagi siswa. “Harapan kami tentu anak jadi menghargai makanan dan menambah terkait keterampilannya,” katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita