Update Gunung Merapi 5 Oktober 2026, Rekam 42 Kali Gempa, Status Bertahan di Level Siaga

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 12:19 WIB
ILUSTRASI: Merapi Terlihat Tenang Siang Ini, Tapi Perut Bumi Bergetar Puluhan Kali: Warga Lereng Tetap Diminta Siaga. (BPPTKG)
ILUSTRASI: Merapi Terlihat Tenang Siang Ini, Tapi Perut Bumi Bergetar Puluhan Kali: Warga Lereng Tetap Diminta Siaga. (BPPTKG)

SLEMAN - Pagi hingga siang hari di kawasan lereng Gunung Merapi sering kali menyuguhkan pemandangan alam yang mendamaikan jiwa. Pada Senin (5/10/2026), langit di atas perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu tampak silih berganti memamerkan wajahnya, dari kondisi cerah, berawan, hingga seketika berubah mendung menaungi puncaknya yang berdiri gagah.

Hembusan angin yang bertiup tenang ke arah barat seolah membelai kawasan lereng dengan kelembutan yang menyejukkan. Suhu udara pegunungan yang berkisar antara 22,7 hingga 26,8 derajat Celsius, diiringi tingkat kelembapan 66 hingga 80,8 persen, membuat rutinitas warga desa di kaki gunung terasa begitu syahdu.

Dari kejauhan, wujud gunung berapi setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut sesekali menampakkan dirinya dengan sangat jelas sebelum kembali diselimuti kabut misterius. Mata telanjang para pengamat bahkan bisa melihat kepulan asap kawah berwarna putih bernaung di atas puncak setinggi 100 meter, mengepul dengan intensitas sedang hingga tinggi namun bertekanan lemah.

Namun, keindahan visual dan ketenangan cuaca di luar rupanya menyimpan sebuah realita berbeda yang bergejolak di kedalaman tanah. Merapi, sang gunung purba yang tak pernah benar-benar tertidur lelap, terus menunjukkan aktivitas magmatis yang tak bisa dipandang sebelah mata oleh siapa pun yang bermukim di sekitarnya.

Sepanjang periode pengamatan mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, instrumen seismik pencatat detak jantung gunung merekam rentetan gempa yang mengkhawatirkan. Laporan yang disusun secara saksama oleh petugas pengamat Alzwar Nurmanaji dan Tri Mujiyanta mencatat terjadinya 20 kali gempa guguran material.

Rentetan getaran guguran ini memiliki amplitudo 2 hingga 28 milimeter dengan durasi yang cukup panjang, berkisar antara 30,28 hingga 107,66 detik. Tidak berhenti di situ, terekam pula 22 kali gempa fase banyak atau *hybrid*, sebuah sinyal kuat bahwa ada dorongan material magma baru yang tengah merangsek naik mencari jalan ke permukaan kawah.

Deteksi kewaspadaan para ahli dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) juga menangkap adanya satu kali gempa vulkanik dangkal. Selain itu, instrumen turut mencatat satu getaran tektonik jauh yang berlangsung lama hingga 142,09 detik, mengindikasikan dinamika kerak bumi yang masih bergejolak.

Rangkaian data dari dalam perut bumi ini menjadi bukti ilmiah yang tak terbantahkan bahwa suplai magma Merapi masih terus berlangsung secara intensif. Oleh karena itu, pemerintah melalui BPPTKG dengan tegas masih mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.

Ancaman bahaya yang mengintai warga sama sekali tidak boleh dianggap remeh, terutama potensi terjangan guguran lava pijar dan awan panas yang mematikan. Wilayah di sektor selatan hingga barat daya, khususnya sepanjang aliran Sungai Boyong, masuk dalam zona merah dengan jarak luncur maksimal 5 kilometer.

Kewaspadaan yang sama tingginya juga wajib diterapkan bagi warga yang bermukim berdekatan dengan aliran Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng, mengingat ancaman awan panas di wilayah ini bisa meluncur hingga 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, aliran Sungai Woro rawan hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer dari puncak.

Jika Merapi tiba-tiba melepaskan amarahnya melalui letusan eksplosif secara mendadak, lontaran material vulkanik berupa batu dan kerikil panas diprediksi mampu menjangkau radius 3 kilometer. Ancaman bahaya sekunder berupa lahar dingin saat hujan lebat serta paparan abu vulkanik juga harus selalu diantisipasi oleh masyarakat luas.

Keselamatan nyawa harus selalu ditempatkan di atas segalanya dalam menghadapi ketidakpastian siklus alam. Warga kembali diimbau keras untuk menahan diri dan tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya, sembari terus memanjatkan doa agar sang gunung senantiasa memberikan keberkahan tanah yang subur alih-alih menghadirkan petaka bagi kehidupan di lerengnya.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Erupsi Merapi 2026 Gunung Merapi BPPTKG status siaga merapi Info Merapi Terkini