SLEMAN - Angin sore berembus lembut di kawasan Sendangrejo, Minggir, Sleman, menerbangkan puluhan layang-layang berwarna-warni yang mewarnai langit cerah. Di balik riuhnya tawa anak-anak dan decak kagum pengunjung, ada cerita-cerita hangat tentang manusia, tanah agraris, dan kebersamaan yang terajut indah di bawah satu langit yang sama.
Semangat itulah yang dihidupkan dalam ajang Sleman Kite Festival (SKF) 2026. Berkolaborasi dengan Persatuan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta dan mendapat dukungan penuh dari Bank Syariah Indonesia (BSI), ajang ini menggelar program bertajuk "One Sky, Many Stories: Workshop & Photo Hunting" pada Minggu, 27 September 2026.
Bertempat di area Pondok Pesantren Gus Muwafiq, acara ini mengajak masyarakat luas untuk tidak sekadar datang dan berdiri sebagai penonton pasif. Lebih dari itu, publik diajak mengambil alih peran sebagai pencerita visual yang merekam denyut kehidupan di sekeliling mereka.
Langkah edukasi ini dibuka melalui sesi workshop yang menghadirkan dua pewarta foto senior dari PFI Yogyakarta, Oka Hamid dan Bramastyo Adhi. Keduanya membagikan pandangan mendalam serta wawasan praktis mengenai pendekatan fotografi jurnalistik dan dokumenter.
Baca Juga: Meriahnya Sleman Kite Festival 2026: Aksi Kunto Aji, Pesan Iklim, dan Tradisi Layang-Layang
Di hadapan para peserta, Oka dan Bramastyo menekankan bahwa keindahan sebuah foto tidak semata-mata diukur dari estetika visual atau ketajaman lensa. Foto yang memiliki jiwa adalah karya yang mampu menangkap momen jujur, menghadirkan konteks yang kuat, serta menyingkap relasi hangat antara manusia dan lingkungannya.
Suasana makin hidup saat para peserta mengendus setiap sudut area festival dengan kamera di tangan. Mereka menyusuri hamparan hijau persawahan Minggir, merekam siluet layang-layang yang menari di udara, hingga menangkap guratan senyum para petani lokal yang menyaksikan kemeriahan tersebut.
Setiap jepretan menjadi saksi bisu betapa indahnya interaksi antarwarga. Dari canda tawa pedagang kecil di tepi lapangan hingga kehangatan keluarga yang duduk bersama di pematang sawah, seluruh momen itu terabadikan dengan begitu manusiawi.
Tema "One Sky, Many Stories" benar-benar terasa nyata di lapangan. Layang-layang yang melayang tinggi menjadi simpul pengikat yang mempertemukan keberagaman latar belakang masyarakat dalam satu bentangan langit yang damai.
Melalui kacamata lensa para peserta, festival ini bertransformasi menjadi ruang refleksi budaya. Acara ini berhasil memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara tradisi, kehidupan masyarakat agraris, dan ruang hidup yang mereka rawat setiap hari.
Baca Juga: Sleman Kite Festival 2026, Usung Tema We Share One Sky, Pertemukan Warga, Komunitas, dan Seniman
Seluruh hasil karya photo hunting dikumpulkan pada 28 September 2026. Gambar-gambar kurasi tersebut kelak tidak hanya menjadi kenangan visual semata, tetapi juga memperkaya arsip sejarah PFI Yogyakarta dan Sleman Kite Festival.
Kehadiran dokumen visual ini menjadi rekam jejak berharga yang mengabadikan kehangatan, dinamika, serta kearifan lokal masyarakat Sleman pada masa kini. Karya-karya tersebut membuktikan bahwa cerita terbaik sering kali bersembunyi di balik hal-hal sederhana di sekitar kita.
Kolaborasi indah antara PFI Yogyakarta, SKF 2026, dan BSI ini sukses membuktikan bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk membagikan rasa dan cerita. Sebab, di balik setiap rangka bambu dan bentangan kain layang-layang yang terbang tinggi, selalu ada kisah tentang tangan-tangan hangat yang membuatnya membumbung ke udara.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja