SLEMAN - Suasana hening di lereng Gunung Merapi kembali diuji oleh gelombang gemuruh bawah tanah yang tak kunjung reda. Pasalnya, gunung api paling aktif di Indonesia ini masih terus menunjukkan geliat vulkaniknya secara konsisten. Pemantauan terbaru mengonfirmasi bahwa aktivitas magma di perut bumi belum sepenuhnya mereda.
Sepanjang hari Minggu, 27 September 2026, kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi tampak berubah-ubah, mulai dari cerah, berawan, hingga diselimuti mendung. Angin bertiup tenang ke arah barat membawa suhu dingin khas pegunungan antara 16,6 hingga 22,5 derajat Celsius. Di balik kabut tipis hingga tebal yang menyelimuti Puncak Garuda, terlihat hembusan asap kawah berwarna putih membubung setinggi 100 hingga 150 meter.
Meski pemandangan visual tampak tenang dari kejauhan, data kegempaan merekam gejolak yang jauh berbeda di dalam perut Merapi. Alat pemantau mencatat setidaknya 61 kali gempa guguran dengan durasi yang mencapai lebih dari 178 detik. Getaran ini menjadi bukti nyata bahwa material batuan di area puncak terus mengalami pergerakan yang dinamis.
Tak hanya itu, gempa Hybrid atau Fase Banyak mendominasi aktivitas bawah tanah dengan jumlah mencapai 85 kali kejadian. Kemunculan gempa jenis ini memberikan sinyal kuat kepada para ahli bahwa proses dorongan dan pencarian jalan keluar oleh fluida magma menuju permukaan masih berlangsung sangat aktif.
Kondisi tersebut dipertegas dengan terekamnya gempa vulkanik dangkal sebanyak dua kali serta gempa tektonik jauh sebanyak tiga kali. Kombinasi rekaman gelombang ini memperkuat indikasi bahwa suplai energi dari kedalaman Merapi belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.
Baca Juga: Pelari Wajib Galang Donasi Rp 1 Juta, Target Rp 768 Juta untuk Anak Cerebral Palsy
Ancaman visual yang paling nyata terlihat di sepanjang alur sungai di sektor Barat Daya. Petugas pemantau mencatat sedikitnya terjadi enam kali guguran lava pijar yang meluncur deras mengarah ke Kali Boyong, Kali Sat/Putih, dan Kali Krasak. Jarak luncuran lava ini tidak main-main, mencapai radius hingga 2.000 meter dari pusat kawah.
Atas rentetan fenomena geologi tersebut, Badan Geologi melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menetapkan tingkat aktivitas Gunung Merapi tetap bertahan pada Level III atau Siaga. Status ini menuntut kewaspadaan penuh dari seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat sekitar.
Sektor Selatan hingga Barat Daya kini menjadi area paling rawan terhadap ancaman guguran lava dan awan panas. Aliran Sungai Boyong berpotensi terancam hingga jarak 5 kilometer, sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dipetakan memiliki jarak bahaya hingga 7 kilometer dari puncak.
Di sisi lain, sektor Tenggara juga tak luput dari potensi bahaya erupsi. Luapan awan panas dan guguran material diprediksi dapat menjangkau kawasan Sungai Woro hingga jarak 3 kilometer serta Sungai Gendol hingga radius 5 kilometer. Jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan sanggup melontar sejauh 3 kilometer ke segala arah.
Baca Juga: Kekeringan, Siswa MAN 1 Kebumen Minta Hujan dengan Salat Istisqa
Para ahli menegaskan bahwa keberadaan suplai magma yang masih berlangsung secara terus-menerus dapat memicu terjadinya Awan Panas Guguran (APG) secara tiba-tiba di dalam zona bahaya. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau keras untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di area yang telah direkomendasikan.
Masyarakat yang bermukim di bantaran sungai juga diminta meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi banjir lahar hujan, terutama saat cuaca buruk mendung dan hujan deras melanda kawasan puncak Merapi. Selain ancaman aliran lahar, potensi sebaran abu vulkanik juga wajib diantisipasi agar tidak mengganggu kesehatan dan aktivitas harian warga.
Pemerintah daerah dan pihak berwenang terus berkoordinasi secara ketat untuk memantau perkembangan terkini. Apabila terjadi perubahan aktivitas vulkanik yang signifikan, status Gunung Merapi akan segera dievaluasi demi keselamatan bersama seluruh warga di sekitar Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG