Kondisi Terkini Gunung Merapi: Status Siaga Level III, Belasan Gempa Guguran Terdeteksi

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 13:29 WIB
ILUSTRASI: Lava Merapi Masih Terus Mengincar, PVMBG Minta Warga Jauhi Radius Bahaya!
ILUSTRASI: Lava Merapi Masih Terus Mengincar, PVMBG Minta Warga Jauhi Radius Bahaya!

 SLEMAN - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Gunung berapi paling aktif di Indonesia tersebut masih memuntahkan energi dari dalam perut bumi secara konstan.

Berdasarkan hasil pengamatan berkala dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), tingkat aktivitas Merapi bertahan kokoh di Level III atau Siaga. Ketenangan di permukaan lereng kerap kali menipu, padahal dinamika bawah tanah masih bergerak dinamis.

Sepanjang pengamatan dari pagi hingga siang hari, suasana di sekitar puncak terselimut kabut tipis hingga tebal. Angin berembus perlahan menuju arah timur, membawa udara dingin pegunungan dengan kelembapan yang cukup tinggi.

Dari balik kabut tebal yang menyelimuti puncak setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut, sesekali terlihat asap kawah berwarna putih. Asap bertekanan lemah itu membumbung perlahan hingga ketinggian 150 meter ke udara.

Di balik penampakan visual yang terkesan tenang, instrumen pemantau gempa merekam gelombang getaran yang intens. Kegempaan di dalam tubuh Merapi menandakan adanya pergerakan material cair yang terus bergejolak mencari jalan keluar.

Baca Juga: Prediksi Skor Serbia vs Belanda di UEFA Nations League, Tim Oranje Raih Tiga Poin di Beograd

Tercatat puluhan kali gempa guguran terjadi akibat guguran material vulkanik yang meluncur di lerengnya. Selain itu, belasan gempa fase banyak atau hybrid turut terekam, menegaskan bahwa dorongan dari dalam masih sangat aktif.

Data seismik ini menjadi bukti konkret bahwa suplai magma dari kedalaman bumi menuju permukaan belum berhenti. Kondisi tersebut sewaktu-waktu dapat memicu munculnya awan panas guguran yang mematikan.

PVMBG menegaskan bahwa ancaman bahaya terbesar saat ini terfokus pada sektor selatan, barat daya, dan tenggara. Aliran sungai-sungai purba yang berhulu di puncak menjadi jalur utama luncuran lava maupun awan panas.

Sektor selatan dan barat daya, seperti Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng, memiliki radius bahaya hingga rentang lima sampai tujuh kilometer. Wilayah ini menjadi prioritas utama yang harus dissterilkan dari segala aktivitas manusia.

Baca Juga: Penjangkauan Gepeng dan ODGJ di Kota Jogja Meningkat, Shelter Dinsosnakertrans Sempat Overload

Sementara itu, di sektor tenggara, Sungai Woro dan Gendol juga berada dalam zona merah dengan radius ancaman tiga hingga lima kilometer. Jika terjadi erupsi eksplosif, material pijar bahkan diperkirakan mampu meluncur hingga jarak tiga kilometer ke segala arah.

Masyarakat yang bermukim di sekitar lereng imbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam area rawan tersebut. Kewaspadaan ekstra juga perlu ditingkatkan terhadap ancaman lahar dingin, terutama saat hujan deras mengguyur puncak Merapi.

Petugas pemantau terus bersiaga selama 24 jam penuh untuk mengamati setiap perubahan kecil pada tubuh Merapi. Jika terjadi penumpukan energi secara mendadak, peninjauan ulang terhadap status kebencanaan akan segera dilakukan demi keselamatan warga.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Berita Merapi Terkini Bencana Alam Gunung Merapi Erupsi Merapi pvmbg