SLEMAN – Gunung Merapi kembali memamerkan geliatnya yang tak pernah benar-benar tidur. Berdasarkan catatan pemantauan terbaru pada Jumat (25/9/2026), aktivitas vulkanik di gunung teraktif di Indonesia ini terbilang masih sangat tinggi, memicu potensi ancaman yang terus mengintai pemukiman dan jalur aliran sungai di sekitarnya.
Langit di sekitar puncak Merapi tampak berubah-ubah, berayun di antara cuaca cerah, berawan, hingga tertutup mendung tebal. Angin berembus pelan hingga sedang mengarah ke utara dan timur, membawa hawa dingin lereng gunung dengan suhu tercatat berada pada rentang 17,1 hingga 30,1 derajat Celsius.
Meskipun puncak gunung sempat terselimuti kabut tebal, pengamat berhasil menangkap momen ketika asap kawah berwarna putih membubung tipis hingga sedang. Asap bertekanan lemah tersebut membumbung setinggi 25 meter ke udara, mempertegas keberadaan geliat magma di dalam perut bumi.
Di bawah permukaan, getaran perut bumi tercatat cukup aktif dan beruntun. Sepanjang hari, instrumen pemantau merekam setidaknya 68 kali gempa guguran dengan durasi hingga lebih dari dua menit, menandakan adanya pelepasan material secara terus-menerus di area puncak.
Baca Juga: Gunung Sakurajima Erupsi Lagi, Kota Kagoshima Diselimuti Hujan Abu Vulkanik
Tak hanya guguran, guncangan internal berupa 84 kali gempa fase banyak (hybrid) dan satu kali gempa vulkanik dangkal turut mewarnai catatan kegempaan. Kehadiran jenis gempa ini menjadi indikator kuat bahwa proses rekah batuan dan pergerakan fluida di dalam tubuh gunung masih berlangsung intens.
Dampak dari tekanan internal ini terlihat dari aktivitas visual di batas kawah. Teramati setidaknya lima kali guguran lava pijar yang meluncur deras mengarah ke Kali Sat/Putih serta Kali Krasak, dengan jarak meluncur mencapai hingga 1.800 meter dari pusat hembusan.
Luncuran material pijar ini menjadi peringatan nyata bagi warga di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten. Gemuruh tipis dan kilatan material di kegelapan malam kerap menjadi pemandangan yang mendebarkan bagi masyarakat yang mengadu nasib di lereng Merapi.
Pihak otoritas menyatakan bahwa suplai magma dari kedalaman masih belum berhenti. Kondisi ini secara langsung memicu ancaman susulan berupa awan panas guguran yang sewaktu-waktu dapat menyapu area di dalam zona bahaya tanpa prediksi yang benar-benar pasti.
Saat ini, status Gunung Merapi bertahan kokoh di Level III atau Siaga. Zona bahaya sektor selatan dan barat daya difokuskan pada Sungai Boyong hingga radius 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng yang menjangkau jarak hingga 7 km.
Baca Juga: Apakah Merapi Akan Erupsi? Muntahkan 81 Guguran Lava, Warga Harus Waspada, Begini Penjelasan BPPTKG
Sementara itu pada sektor tenggara, jalur Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km dipetakan sebagai area berisiko tinggi. Jika erupsi eksplosif tiba-tiba terjadi, lontaran material vulkanik diperkirakan sanggup menjangkau radius 3 km dari puncak.
Warga setempat imbau untuk menghentikan seluruh bentuk aktivitas di dalam zona rawan bencana tersebut. Selain guguran lava, ancaman lahar dingin membayangi saat hujan turun deras membasahi hulu sungai, ditambah potensi gangguan abu vulkanik yang mengintai pernapasan.
Merapi senantiasa memberi sinyal kehidupan yang tak boleh diabaikan. Masyarakat diminta untuk tetap tenang namun ekstra waspada, mengikuti arahan resmi dari petugas pemantau demi keselamatan bersama di bawah bayang-bayang gunung agung ini.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG