SLEMAN - Jumlah peristiwa kebakaran lahan di Kabupaten Sleman meningkat signifikan sejak musim kemarau panjang . Kondisi ini menyebabkan berkurangnya kelembapan sehingga lahan dan vegetasi cenderung kering dan mudah terbakar jika ada sumber api. Mayoritas kejadian dipicu pembakaran sampah di lahan kering.
Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman Indra Darmawan mengatakan, 35 kejadian pada Juni, naik menjadi 51 kejadian pada Juli, 73 kejadian pada Agustus, dan 61 kejadian hingga 14 September. Sedangkan pada Mei rata-rata hanya di angka 13 kejadian.
"Dalam periode lonjakan ini memang didominasi oleh kebakaran lahan," katanya, Jumat (25/9/2026).
Baca Juga: Atap TPS Pasar Imogiri Jebol, Usulan Perbaikan Belum Terealisasi sejak Awal Tahun
Dia menjelaskan, lonjakan signifikan ini mayoritas disebabkan oleh aktivitas pembakaran sampah yang dilakukan di lahan yang kering. Banyak masyarakat yang membakar sampah, tetapi ditinggal begitu saja tanpa pengawasan sehingga api menyebar. Maka, dia mengimbau agar masyarakat bisa mengelola sampahnya dengan bijak tanpa menggunakan cara pembakaran.
Indra bercerita, ada kasus kebakaran lahan yang terjadi karena upaya warga untuk menyiapkan lahan tanam. Dia memastikan telah dilakukan koordinasi dengan dinas pertanian agar mengarahkan masyarakat untuk menggunakan metode nonbakar dalam penyiapan lahan.
Adanya kondisi dan tren ini diharapkan juga bisa jadi peringatan agar masyarakat bisa saling menjaga dan mengawasi. "Harapannya kebakaran lahan bisa terus dicegah dan ditangani sebelum meluas," tambahnya.
Baca Juga: Tak Ingin Talenta Muda Terputus, PSIM Jogja Perkuat Penghubung Akademi dan Skuad Senior
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro menjelaskan, ancaman saat musim kemarau ini memang beragam.
Mulai dari kekeringan, kekurangan air, kebakaran lahan, hingga hewan-hewan keluar untuk mencari makan. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita