SLEMAN - Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi sepanjang Rabu, 23 September 2026. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini masih berstatus Level III atau Siaga, tanpa perubahan sejak periode pengamatan sebelumnya.
Dalam kurun waktu pengamatan pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, cuaca di sekitar Merapi tercatat cerah. Angin bertiup lemah menuju utara, timur, dan barat, dengan suhu udara berkisar 16,6 hingga 27,7 derajat Celsius. Kondisi visual gunung teramati jelas, dengan asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tipis yang mencapai ketinggian 10 hingga 75 meter di atas puncak.
Dari sisi kegempaan, BPPTKG mencatat aktivitas yang cukup ramai. Sebanyak 68 kali gempa guguran terekam dengan amplitudo 2 hingga 18 milimeter, disusul 89 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan durasi bervariasi antara 9,75 hingga 48,44 detik. Selain itu, tercatat pula 4 kali gempa vulkanik dangkal dan 2 kali gempa tektonik jauh.
Yang perlu menjadi perhatian, petugas pengamat juga mencatat 11 kali luncuran lava pijar ke arah barat daya. Material vulkanik ini mengalir menuju empat sungai sekaligus, yakni Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter dari puncak.
Menyikapi kondisi tersebut, BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma dari dalam perut Merapi masih terus berlangsung hingga saat ini. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam kawasan yang sudah ditetapkan sebagai daerah rawan bahaya.
Baca Juga: Gegara Judol dan Pinjol Ilegal di Sleman Penerima Bansos Terjerat, Utang Pinjol DIY Tembus Rp 1,4 T
Sektor selatan-barat daya menjadi salah satu area yang paling diwaspadai. Potensi bahaya di sektor ini meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius 7 kilometer dari puncak.
Sementara itu, di sektor tenggara, ancaman guguran lava dan awanpanas mengintai Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak gunung.
Menghadapi situasi ini, BPPTKG kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya. Imbauan ini bertujuan untuk mengurangi risiko korban jiwa akibat guguran lava maupun awanpanas.
Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di Merapi juga diminta lebih waspada terhadap ancaman lahar dan awanpanas guguran, terutama ketika turun hujan di kawasan puncak. Curah hujan yang tinggi dapat memicu material vulkanik bercampur air dan mengalir deras ke wilayah hilir.
Baca Juga: Truk Damkar Tak Bisa Masuk karena Terkendala Medan, Damkarmat Gunungkidul Siapkan 10 Ransel Air
Selain ancaman guguran dan lahar, masyarakat juga diimbau mengantisipasi gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh abu vulkanik apabila terjadi erupsi eksplosif. Debu vulkanik dapat mengganggu kesehatan pernapasan dan aktivitas warga di luar rumah.
BPPTKG menegaskan bahwa status aktivitas Merapi akan terus dievaluasi secara berkala. Apabila terjadi perubahan signifikan pada data pemantauan, tingkat aktivitas gunung ini akan segera ditinjau ulang untuk memastikan keselamatan warga di sekitar lereng Merapi.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG