SLEMAN - Suasana tenang di sekitar perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah mendadak diwarnai ketegangan. Gunung Merapi, sang raksasa megah yang berdiri setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut, kembali menunjukkan gejolak perut buminya yang tak pernah benar-benar tertidur.
Berdasarkan pengamatan terbaru Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas magma di dalam perut Merapi masih sangat aktif. Fenomena ini memicu serangkaian guguran lava pijar yang meluncur deras mengancam beberapa alur sungai di lerengnya.
Petugas mencatat sedikitnya terjadi 17 kali guguran lava yang mengarah ke sektor selatan dan barat daya. Material panas tersebut meluncur mengaliri Sungai Sat, Sungai Putih, Sungai Bebeng, hingga Sungai Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter dari puncak kawah.
Pemandangan visual kawah Merapi menyajikan panorama yang menggeletarkan dada. Meski puncak gunung sempat diselimuti kabut tipis, hembusan asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah masih terlihat membumbung setinggi 25 meter ke udara.
Baca Juga: Aset Enam BUMD Milik Pemkot Magelang Rp 375,64 Miliar, tapi Laba Bersih Baru Rp 2,35 Miliar
Aktivitas kegempaan di dalam tubuh Merapi pun tercatat begitu intensif. Ribuan gelombang getaran terekam oleh seismogram, menandakan pergerakan energi yang sangat masif di bawah permukaan tanah yang saban hari diinjak warga lereng gunung.
Guncangan dominan didominasi oleh gempa guguran sebanyak 92 kali. Tak hanya itu, gempa hybrid atau fase banyak yang menjadi penanda utama pergerakan magma ke permukaan tercatat muncul hingga 67 kali, disusul oleh gempa vulkanik dangkal.
Melihat deretan data statistik kegempaan yang cukup pekat tersebut, BPPTKG mengonfirmasi bahwa suplai magma segar dari kedalaman bumi menuju permukaan kawah masih berlangsung tanpa henti. Kondisi ini membawa potensi bahaya sewaktu-waktu berupa Awan Panas Guguran (APG).
Saat ini, status Gunung Merapi tetap dipertahankan pada Level III (Siaga). Status tinggi ini menjadi sinyal peringatan keras bagi seluruh masyarakat yang tinggal di empat wilayah kabupaten sekitar, yakni Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten.
Ancaman bahaya utama saat ini mengintai sektor selatan hingga barat daya. Aliran Sungai Boyong berpotensi terancam hingga jarak 5 kilometer, sementara alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki rentang potensi bahaya yang lebih jauh, yakni mencapai radius 7 kilometer.
Baca Juga: Bazar Murah TNI di Magelang Sikapi Harga Kebutuhan Pokok Tinggi, Beras 5 Kg Dijual Rp 56 Ribu
Sektor tenggara juga tak luput dari pengawasan ketat. Sungai Woro mengantongi potensi bahaya sejauh 3 kilometer, sedangkan aliran Sungai Gendol terancam hingga radius 5 kilometer. Jika letusan eksplosif mendadak terjadi, lontaran material vulkaniknya diperkirakan mampu melesat hingga radius 3 kilometer.
Masyarakat yang bermukim di sekitar kaki Merapi dimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam area radius bahaya yang telah ditetapkan. Kewaspadaan ekstra juga wajib ditingkatkan terhadap potensi ancaman banjir lahar dingin, terutama ketika hujan deras mulai mengguyur area puncak kawah.
Kesiapsiagaan warga serta kepatuhan terhadap rekomendasi resmi lembaga berwenang menjadi kunci utama keselamatan bersama. Selalu pantau kanal informasi terpercaya dan bersiap mengantisipasi dampak sebaran abu vulkanik jika terjadi peningkatan aktivitas susulan.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG