SLEMAN - Setelah dua hari menunjukkan peningkatan signifikan, Gunung Merapi pada 20 September 2026 masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tidur panjang. Gunung yang menjadi penjaga kehidupan warga Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tetap menggeliat di bawah status Level III Siaga.
Laporan harian Magma-VAR dari BPPTKG untuk periode 00.00 hingga 24.00 WIB kemarin menjadi bukti bahwa Merapi masih bekerja keras. Dari puncak setinggi 2.968 mdpl di perbatasan Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, hembusan dan getaran masih terus terekam tanpa henti.
Kondisi meteorologi di sekitar puncak terpantau cukup cerah, meski sesekali diselimuti awan dan mendung tipis. Angin berhembus lemah dan berubah arah ke utara, timur, dan barat. Suhu udara berkisar 15,9 hingga 28,5 derajat Celcius dengan kelembaban 42 hingga 80,8 persen, kondisi yang membuat visual puncak terlihat jelas sepanjang hari.
Justru karena gunung terlihat jelas itulah, petugas bisa mengamati dengan detail aktivitas kawahnya. Asap putih bertekanan lemah dengan intensitas tipis terlihat membumbung jauh lebih tinggi dari hari sebelumnya, mencapai 50 hingga 100 meter di atas puncak kawah. Ini adalah tinggi asap tertinggi dalam tiga hari terakhir.
Kenaikan tinggi asap ini bukan sekadar fenomena visual. Di baliknya, data kegempaan justru mengungkap cerita yang lebih dalam. Seismograf mencatat 53 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 31 mm dan durasi terpanjang hingga hampir 4 menit, menandakan material kubah lava terus berjatuhan.
Baca Juga: Disorot KPK, Pokir DPRD Kebumen Urung Direalisasikan Mekanisme Pengusulan Dinilai Keliru
Yang paling mencuri perhatian adalah gempa hybrid atau fase banyak yang melonjak tajam menjadi 93 kejadian. Angka ini naik signifikan dari 75 kejadian pada 18 September. Gempa hybrid adalah sinyal paling jujur bahwa dapur magma Merapi masih terus memompa pasokan baru ke atas, mendorong kubah yang sudah rapuh.
Selain itu, tercatat 2 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 16 hingga 18 mm dan 3 kali gempa tektonik jauh. Kombinasi gempa yang masih tinggi ini menguatkan analisis BPPTKG bahwa suplai magma belum berhenti dan potensi awan panas guguran masih sangat nyata.
Secara visual, kegelisahan itu mewujud dalam 10 kali guguran lava pijar yang teramati meluncur ke arah barat daya. Kali ini jangkauannya sedikit melebar, tidak hanya ke Kali Sat atau Kali Putih dan Kali Krasak, tapi juga sudah merambah ke Kali Boyong. Jarak luncurnya tetap konsisten sejauh maksimum 2.000 meter.
Sepuluh luncuran dalam sehari mungkin terlihat menurun dari hari sebelumnya, namun sebaran yang kini mencapai Kali Boyong menjadi catatan penting. Artinya, kubah lava di sisi barat daya dan selatan mulai tidak stabil secara merata dan bisa mengancam lebih dari satu alur sungai sekaligus.
Baca Juga: SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, SD Tarakanita Bumijo 1 Buat Sejarah di MLSC Jogja Seri 1
Oleh sebab itu, BPPTKG belum mengubah peta potensi bahaya. Ancaman utama berupa guguran lava dan awan panas masih berpusat di sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer dari puncak.
Untuk sektor tenggara, Sungai Woro tetap berbahaya hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik bisa menyambar radius 3 kilometer dari puncak. Zona ini harus benar-benar steril dari aktivitas warga, pendaki, maupun penambang pasir.
Masyarakat di lereng Merapi diminta untuk patuh. Jangan melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya, waspadai lahar hujan dan awan panas guguran terutama saat hujan turun, serta siapkan diri mengantisipasi abu vulkanik. Laporan disusun oleh Ngadiyo dari BPPTKG, dengan penegasan pemantauan 24 jam terus berjalan dan status akan segera ditinjau jika aktivitas berubah drastis.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG