Detik-Detik Merapi Membara, 12 Aliran Lava Panjang Terlihat dari Sleman

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 04:58 WIB
Kondisi Terkini Gunung Merapi: Belasan Guguran Lava dan Ratusan Gempa Terdeteksi dalam 24 Jam. (Dokumentasi BPPTKG)
Ilustrasi, Gunung Merapi Kembali Bergolak, Lava 2 Kilometer Luncur ke Kali Sat. 

SLEMAN - Jika Anda menatap puncak Merapi pada 18 September 2026 kemarin, pemandangannya tampak menipu. Langit terlihat cerah, angin berembus pelan ke barat, dan suhu udara terasa sejuk. Namun di balik keindahan itu, gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut sedang menyimpan tenaga besar.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan, status Merapi belum turun. Gunung yang mengapit empat kabupaten, Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten ini masih bertahan di Level III Siaga, level yang menuntut kewaspadaan penuh dari semua pihak.

Apa yang membuat status Siaga ini dipertahankan? Jawabannya ada pada asap kawah. Jika sehari sebelumnya asap hanya setinggi 10 meter, kemarin asap putih bertekanan lemah terlihat jauh lebih tebal, dengan tinggi mencapai 10 hingga 50 meter di atas puncak. Warna putihnya yang pekat menandakan ada dorongan kuat dari dapur magma.

Kegelisahan Merapi paling jelas terekam oleh seismograf. Alat itu mencatat 94 kali gempa guguran dalam 24 jam, sebuah lonjakan hampir dua kali lipat dari hari sebelumnya. Getarannya terekam dengan amplitudo 2 hingga 24 mm dan durasi yang cukup panjang, hingga 213 detik.

Belum selesai di situ, gempa hybrid yang menjadi indikator suplai magma juga melonjak menjadi 75 kejadian. Gempa dengan karakteristik S-P 0,3 hingga 0,8 detik ini adalah bahasa Merapi bahwa magma baru masih terus naik dan mengisi kubah lava di puncak barat daya.

Baca Juga: Bisa Bikin Donald Trump Marah Lagi, Bank Indonesia Luncurkan Kartu Kredit Indonesia dan MDR QRIS 0%

BPPTKG juga mencatat 2 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo yang cukup besar hingga 75 mm, serta 2 kali gempa tektonik jauh. Kombinasi ini menegaskan bahwa sistem di dalam Merapi sedang sangat aktif dan tidak bisa dianggap remeh.

Bukti visualnya pun tak terbantahkan. Sepanjang hari pengamatan, petugas melihat 12 kali guguran lava pijar yang meluncur turun ke arah barat daya. Jalur yang dilalui adalah Kali Sat atau Kali Putih dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.

Bayangkan, material pijar berwarna merah menyala itu mengalir sejauh dua kilometer di kegelapan lereng. Pemandangan itu indah sekaligus mengerikan, menjadi pengingat bahwa kubah lava Merapi sedang dalam kondisi rapuh dan mudah runtuh kapan saja.

Karena itulah, peta bahaya belum berubah. Potensi guguran lava dan awan panas masih terkonsentrasi di selatan-barat daya, yakni Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer dari puncak. Ini adalah zona yang wajib kosong.

Baca Juga: Tottenham Hotspur Akhiri Paceklik di Liga Inggris, Namun Tetap Takluk dari Aston Villa

Sementara di tenggara, Sungai Woro ditetapkan berbahaya hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika suatu saat terjadi letusan eksplosif, lontaran batu dan material vulkanik diperkirakan bisa mencapai radius 3 kilometer dari puncak.

Imbauan untuk warga pun kembali digaungkan dengan tegas. Jangan pernah melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya yang sudah ditetapkan. Waspadai potensi lahar hujan ketika hujan lebat mengguyur puncak, dan siapkan masker untuk mengantisipasi abu vulkanik.

Laporan yang disusun oleh Tri Mujiyanta ini menjadi penutup hari yang penuh kewaspadaan. BPPTKG menegaskan pemantauan dilakukan nonstop 24 jam dan jika ada perubahan signifikan, status Merapi akan segera dievaluasi. Saat ini, Merapi masih Siaga dan kita semua diminta untuk tetap waspada.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Gunung Merapi Terbaru BPPTKG Merapi Aktivitas Vulkanik Merapi Merapi 18 September 2026 Status Merapi Siaga