SLEMAN - Detak jantung Gunung Merapi kembali berdegup kencang. Jika sehari sebelumnya aktivitasnya masih tertahan, pada 18 September 2026 gunung paling aktif di Indonesia ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dan membuat petugas meningkatkan kewaspadaan.
Laporan harian dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menjadi buktinya. Dalam periode pengamatan 24 jam penuh, Merapi yang menjulang 2.968 meter di perbatasan Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten itu belum juga beranjak dari status Level III atau Siaga.
Secara kasat mata, kondisi cuaca di puncak terlihat cukup kondusif. Langit berganti dari cerah, berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah ke arah barat dengan suhu udara yang sejuk di kisaran 17,1 hingga 25,6 derajat Celcius. Namun di balik ketenangan itu, asap dari kawah justru terlihat lebih tebal dari hari sebelumnya.
Petugas pos pengamatan mencatat hembusan asap putih bertekanan lemah dengan intensitas sedang hingga tebal. Tingginya pun meningkat, mencapai 10 hingga 50 meter di atas puncak kawah. Asap yang semakin tinggi ini menjadi isyarat adanya tekanan dari dalam yang terus mencari jalan keluar.
Data kegempaan menjadi alarm yang paling nyaring. Seismograf merekam lonjakan drastis gempa guguran, dari yang sebelumnya 57 kali, kini melonjak menjadi 94 kali dalam sehari. Amplitudonya pun menguat hingga 24 mm dengan durasi terpanjang lebih dari tiga setengah menit.
Baca Juga: PSS Sleman Masih Mencari Formasi Ideal demi Hentikan Tren Buruk di BRI Super League
Tak kalah mencolok adalah gempa hybrid atau fase banyak yang juga naik menjadi 75 kejadian. Gempa jenis ini adalah penanda klasik adanya pergerakan magma menuju permukaan. Selain itu, tercatat pula 2 kali gempa vulkanik dangkal dan 2 kali gempa tektonik jauh yang ikut mewarnai hari itu.
Visual paling dramatis terekam di siang hingga malam hari. Sebanyak 12 kali guguran lava teramati dengan jelas meluncur ke arah barat daya, menyusuri alur Kali Sat atau Kali Putih dan Kali Krasak. Jarak luncurnya masih bertahan di angka maksimum 2.000 meter, menerangi lereng dalam gelap.
Dua belas kali luncuran dalam sehari bukanlah angka kecil. Ini mengindikasikan kubah lava di puncak barat daya sedang dalam kondisi sangat tidak stabil dan terus tumbuh akibat suplai magma yang belum berhenti, sehingga materialnya mudah runtuh oleh gravitasi.
Melihat data tersebut, BPPTKG menegaskan potensi bahaya masih sama dan belum boleh dianggap remeh. Ancaman guguran lava dan awan panas guguran masih mengintai sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong hingga 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km dari puncak.
Baca Juga: PSIM Jogja Tumbang 1-2 di Pamekasan, Van Gastel Soroti Peluang yang Terbuang dari Timnya
Untuk sektor tenggara, Sungai Woro masih dalam radius bahaya 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik bisa menjangkau hingga 3 km dari puncak. Radius ini mutlak harus kosong dari aktivitas manusia.
Warga yang tinggal di sekitar Merapi diminta untuk benar-benar mematuhi rekomendasi. Jangan beraktivitas di daerah potensi bahaya, waspadai lahar hujan dan awan panas saat hujan mengguyur puncak, serta antisipasi hujan abu vulkanik yang bisa mengganggu pernapasan dan jarak pandang.
BPPTKG melalui penyusun laporan Tri Mujiyanta menegaskan, pemantauan terus dilakukan 24 jam. Jika ada perubahan aktivitas yang signifikan, status Merapi akan segera ditinjau ulang. Untuk saat ini, Merapi masih Siaga dan butuh kewaspadaan kita bersama.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG