SLEMAN - Gumpalan asap putih tipis membumbung pelan dari puncak Gunung Merapi, membelah langit cerah berawan di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di balik keindahan visualnya, sang gunung agung sejatinya tak pernah benar-benar tidur.
Laporan pemantauan terbaru mencatat Gunung Merapi masih berada di Level III (Siaga). Aktivitas di perut bumi tetap bergejolak, menandakan potensi bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam pemukiman di sekitarnya.
Sepanjang pengamatan terbaru, embusan asap kawah berwarna putih terpantau membumbung setinggi 50 hingga 100 meter dari atas puncak. Udara sejuk bersuhu 17,4 hingga 26,5 derajat Celsius menyelimuti kawasan lereng, dipadu embusan angin lemah ke berbagai arah.
Namun, ketenangan permukaan itu berbanding terbalik dengan kondisi seismik di dalamnya. Alat pemantau mencatat intensitas kegempaan yang terbilang sangat tinggi.
Tak kurang dari 101 kali gempa guguran terdeteksi dengan durasi hingga ratusan detik. Selain itu, puluhan gempa hybrid atau fase banyak serta gempa vulkanik dangkal menegaskan bahwa aktivitas pembentukan dan pergerakan magma di dalam tubuh Merapi masih berlangsung intens.
Baca Juga: Gegara Hal Ini, Disdukcapil Gunungkidul sampai Lima Kali Digugat ke Pengadilan
Guguran lava pijar pun tak terelakkan. Petugas mencatat sedikitnya 12 kali luncuran lava pijar mengarah ke sektor barat daya, khususnya di alur Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Bebeng.
Jarak luncuran material panas tersebut tak main-main, mencapai radius maksimal 2.000 meter dari pusat erupsi. Angka ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang beraktivitas di sekitar aliran sungai tersebut.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menegaskan bahwa suplai magma di dalam perut Merapi belum berhenti. Kondisi ini berpotensi kuat memicu terjadinya Awan Panas Guguran (APG) secara tiba-tiba.
Sektor selatan dan barat daya kini menjadi area paling rawan. Potensi bahaya guguran lava dan awan panas diprediksi dapat menjangkau Sungai Boyong hingga radius 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga jarak 7 kilometer.
Baca Juga: Gunung Andong Terbakar, Pemadaman Terkendala Medan Tebing dan Angin Kencang
Sementara itu di sektor tenggara, Sungai Woro memendam ancaman hingga radius 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Jika letusan eksplosif mendadak terjadi, lontaran material vulkanik diperkirakan sanggup melayang hingga jarak 3 kilometer dari puncak kawah.
Ancaman sekunder berupa banjir lahar dingin juga mengintai, terutama ketika hujan deras mengguyur puncak Merapi. Warga di sekitar daerah aliran sungai diminta tetap bersiap menghadapi kemungkinan paparan abu vulkanik yang terbawa angin.
Masyarakat diimbau keras untuk menahan diri dan tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam zona bahaya yang telah ditentukan. Kepatuhi arahan resmi dan kewaspadaan ekstra menjadi kunci utama keselamatan warga di lereng Merapi.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG