Dalam 24 Jam, Merapi Luncurkan 96 Guguran Lava Pijar dan Terjadi 66 Gempa Hybrid

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 01:02 WIB
Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas 2.000 Meter, Warga di Lereng Gunung Diminta Waspada
Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas 2.000 Meter, Warga di Lereng Gunung Diminta Waspada

 SLEMAN - Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup dinamis sepanjang Minggu, 14 September 2026. Gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini masih berstatus Level III atau Siaga, sebagaimana dilaporkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Dalam periode pengamatan selama 24 jam penuh, kondisi cuaca di sekitar puncak tercatat berubah-ubah, mulai dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup lemah ke arah barat, dengan suhu udara berkisar 15,5 hingga 28,6 derajat Celsius. Kelembapan udara berada di rentang 47,7 hingga 68,8 persen, sementara tekanan udara tercatat antara 874,8 hingga 919 milibar.

Secara visual, puncak Merapi masih dapat teramati dengan jelas meski sesekali tertutup kabut tipis hingga tebal. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih terpantau membubung setinggi 25 sampai 40 meter di atas puncak kawah, menandakan aktivitas fumarola yang masih berlangsung normal di tengah tingginya aktivitas kegempaan.

Dari sisi kegempaan, sensor BPPTKG merekam total 96 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 69 milimeter dan durasi antara 24,94 hingga 180,53 detik. Angka ini menjadi indikator utama bahwa material di kubah lava terus mengalami peluruhan sepanjang hari.

Selain itu, tercatat pula 66 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2 sampai 34 milimeter. Kemunculan gempa jenis ini kerap dikaitkan dengan pergerakan magma menuju permukaan, menjadi salah satu parameter penting yang terus dipantau tim ahli geologi.

Baca Juga: Bupati Kebumen Lilis Buryani Minta 135 ASN Purnatugas Tetap Ikut Bangun Daerah

Aktivitas kegempaan lain yang terekam meliputi tiga kali gempa vulkanik dangkal berdurasi 18,43 hingga 29,27 detik, serta tiga kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo mencapai 28 hingga 72 milimeter. Kombinasi berbagai jenis gempa ini menggambarkan kompleksitas proses yang tengah terjadi di dalam tubuh gunung.

Yang tak kalah signifikan, petugas mencatat 25 kali luncuran guguran lava sepanjang periode pengamatan. Material pijar tersebut meluncur ke arah baratdaya, tepatnya menuju Kali Bebeng dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter dari puncak.

BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma dari dalam perut bumi masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu awanpanas guguran sewaktu-waktu, terutama di sektor selatan hingga baratdaya yang mencakup aliran Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng.

Wilayah rawan bahaya di sektor selatan-baratdaya diperkirakan mencapai radius 5 kilometer untuk Sungai Boyong, serta hingga 7 kilometer untuk Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng. Sementara di sektor tenggara, ancaman meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak.

Baca Juga: Singgah di Warung Sop dan Sate Sapi Pak Bayu, Ganjar Pranowo Nikmati Suasana Malam di Sleman

Masyarakat di sekitar lereng Merapi diimbau untuk tidak beraktivitas apa pun di dalam zona-zona rawan tersebut. Kewaspadaan ekstra juga diminta terhadap potensi bahaya lahar dan awanpanas guguran, terutama saat hujan turun di kawasan puncak dan sekitarnya.

BPPTKG turut mengingatkan warga untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang mungkin terjadi apabila aktivitas erupsi meningkat. Status aktivitas akan terus dievaluasi secara berkala, dan perubahan signifikan akan segera diinformasikan kepada masyarakat melalui kanal resmi lembaga tersebut.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
awanpanas guguran SIAGA MERAPI Gunung Merapi BPPTKG aktivitas vulkanik