Pasar Ngino Sleman, Pasar Tradisional yang Masih Menyimpan Jejak Sejarah dan Kuliner Lawas

Rahmawati Wulandari • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 14:50 WIB
Penampakan Los Pasar Lama Ngino yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dengan arsitektur empat los terbuka beratapkan genteng peninggalan masa kolonial, serta suasana aktivitas jual beli di dalam pasar yang memperlihatkan interaksi masyarakat dan pedagang tradisional yang masih bertahan hingga kini.
Sumber :FB @blusuker
Penampakan Los Pasar Lama Ngino yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dengan arsitektur empat los terbuka beratapkan genteng peninggalan masa kolonial, serta suasana aktivitas jual beli di dalam pasar yang memperlihatkan interaksi masyarakat dan pedagang tradisional yang masih bertahan hingga kini. Sumber :FB @blusuker

SLEMAN – Di tengah berkembangnya pusat perbelanjaan modern, Pasar Ngino di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, masih mempertahankan suasana pasar rakyat yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Bukan sekadar tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari, pasar ini juga menyimpan jejak sejarah, kuliner tradisional, hingga tradisi budaya yang masih bertahan sampai sekarang.

Pasar Ngino menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah Seyegan. Setiap hari, pasar ini dipenuhi pedagang yang menjual kebutuhan pokok, hasil pertanian, hingga aneka jajanan tradisional khas Yogyakarta.

Salah satu daya tarik Pasar Ngino adalah keberadaan Los Pasar Lama Ngino yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Sleman.

Bangunan ini memiliki arsitektur khas pasar tradisional pada masa kolonial, berupa empat los terbuka dengan konstruksi besi dan atap genteng. Keberadaannya menjadi salah satu jejak perkembangan aktivitas perdagangan masyarakat pedesaan di Sleman sejak puluhan tahun lalu.

Hingga kini, los tersebut masih menjadi bagian dari aktivitas pasar dan menjadi penanda sejarah yang tetap terjaga di tengah perubahan zaman.

Baca Juga: Kipo, Jajanan Tradisional Khas Kotagede yang Punya Cerita Unik di Balik Namanya

Tak hanya menyimpan nilai sejarah, Pasar Ngino juga dikenal sebagai tempat berburu kuliner tradisional yang mulai sulit ditemukan di pasar modern.

Salah satu yang paling khas adalah jenang upih, makanan tradisional Yogyakarta yang dibungkus menggunakan pelepah pohon pinang atau jambe. Jenang ini memiliki cita rasa manis dan tekstur lembut, serta hanya dijual pada hari pasaran Jawa tertentu, yaitu Wage dan Legi.

Keberadaan jenang upih menjadi alasan tersendiri bagi sebagian pengunjung untuk datang ke Pasar Ngino pada hari-hari pasaran tersebut.

Suasana Pasar Ngino masih memperlihatkan interaksi khas pasar rakyat. Pedagang dan pembeli saling mengenal, sementara proses tawar-menawar masih menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Salah satunya adalah Sumirah, pedagang telur bebek yang telah berjualan selama puluhan tahun di Pasar Ngino. Ia menjual telur bebek mentah maupun telur bebek matang dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat.

Keberadaan pedagang-pedagang lama menjadi bagian dari identitas Pasar Ngino yang tetap hidup hingga kini.

Upaya menghidupkan kembali Pasar Ngino juga dilakukan melalui berbagai kegiatan yang memadukan perdagangan dan kebudayaan.

Pada Agustus 2026, Pasar Ngino menjadi lokasi pelaksanaan GEMPAR (Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat). Program tersebut menghadirkan pertunjukan Jathilan Amita Dahayu dan penampilan sinden Anies Cethul, sehingga suasana pasar menjadi lebih ramai.

Kegiatan ini berdampak positif terhadap aktivitas perdagangan. Jumlah pengunjung yang biasanya sekitar 700 orang meningkat menjadi sekitar 1.200 orang selama program berlangsung. Omzet pedagang juga disebut meningkat dari sekitar 56 persen menjadi 96 persen.

Baca Juga: Pantangan Kasur Kapuk di Dusun Kasuran, Mitos atau Penghormatan Leluhur? 

Selain menghadirkan kesenian, Pemerintah Kabupaten Sleman juga mendorong Pasar Ngino mengikuti perkembangan digital. Salah satunya melalui penggunaan sistem pembayaran QRIS agar transaksi menjadi lebih mudah.

Bahkan, muncul wacana pengembangan pasar sore yang memadukan pusat kuliner dengan aktivitas ekonomi masyarakat setelah jam operasional pasar tradisional selesai.

Konsep tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung tanpa menghilangkan karakter Pasar Ngino sebagai pasar rakyat.

Pasar Ngino bukan hanya ruang transaksi jual beli. Di dalamnya tersimpan sejarah bangunan cagar budaya, kuliner tradisional yang mulai langka, interaksi sosial masyarakat, hingga pertunjukan seni yang menghidupkan pasar.

Perpaduan nilai sejarah, budaya, dan ekonomi itulah yang membuat Pasar Ngino menjadi salah satu pasar tradisional di Sleman yang masih mempertahankan identitasnya di tengah perkembangan zaman.

Editor : Bahana.
Jenang Upih Wisata Kuliner Jogja Sleman Pasar Ngino pasar tradisional