Gunung Merapi Kembali Batuk, 66 Kali Guguran Guncang Sleman, Lava Meluncur 1,5 Kilometer

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 05:04 WIB
Guguran Lava Merapi Capai 2 Km, BPPTKG Minta Warga Waspada Awan Panas.
Guguran Lava Merapi Capai 2 Km, BPPTKG Minta Warga Waspada Awan Panas.

 SLEMAN - Gunung Merapi yang berdiri megah dengan ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl) kembali menunjukkan taringnya. Sepanjang periode pengamatan 12 September 2026, mulai tengah malam hingga jelang tengah malam, gunung yang menjadi perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini terus memuntahkan energi vulkaniknya. Statusnya masih bertahan di Level III (Siaga), mengingatkan kita bahwa alam sedang tidak baik-baik saja.

Pagi itu, langit di sekitar Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten tampak murung. Cuaca berawan hingga mendung menyelimuti kawasan gunung, seolah menjadi selimut tebal bagi aktivitas magma di perutnya. Angin bertiup lemah hingga sedang, membawa aroma belerang ke arah utara, timur, dan barat. Suhu udara tercatat cukup dingin, berkisar antara 17.3 hingga 26.2 derajat Celsius, dengan kelembaban udara yang tinggi mencapai 94.4 persen.

Dari kejauhan, visual gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut tipis. Asap kawah bertekanan lemah terus mengepul keluar dari puncak. Asap berwarna putih itu terlihat tebal, menjulang setinggi 20 meter di atas kawah, menjadi pemandangan yang sekaligus memesona dan menakutkan bagi warga yang tinggal di lereng.

Namun, di balik ketenangan visual tersebut, getaran di bawah permukaan bumi menceritakan kisah yang berbeda. Alat pemantau milik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merekam 66 kali gempa guguran. Getaran ini memiliki amplitudo 2-34 mm dengan durasi yang cukup lama, mencapai 168.2 detik. Ini bukan getaran biasa; ini adalah suara batu-batu besar yang runtuh dari puncak.

Aktivitas kegempaan juga diwarnai oleh 89 kali gempa Hybrid atau fase banyak. Gempa ini memiliki amplitudo 2-33 mm dengan durasi 8.89 hingga 58.72 detik. Kehadiran gempa hybrid seringkali menjadi indikator pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung. Selain itu, tercatat 2 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 2 kali gempa Tektonik Jauh, menambah daftar panjang aktivitas seismik di hari itu.

Baca Juga: Penutupan Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY, Kemajuan DIY Tak Bisa Dilepaskan dari Akar Budayanya

Puncak dari laporan ini adalah teramatinya satu kali guguran lava ke arah Kali Krasak. Material panas itu meluncur sejauh 1.500 meter dari puncak. Luncuran lava ini menjadi bukti visual bahwa suplai magma dari dalam perut bumi masih terus berlangsung, mendorong material ke permukaan dan berpotensi memicu awan panas guguran jika kondisi berubah drastis.

Melihat kondisi tersebut, BPPTKG selaku penyusun laporan melalui Ngadiyo, memberikan peringatan tegas kepada masyarakat. Potensi bahaya saat ini sangat nyata, terutama dari guguran lava dan awan panas yang bisa menyapu sektor selatan-barat daya. Sungai Boyong terancam hingga radius 5 kilometer, sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga 7 kilometer.

Warga di sektor tenggara juga tidak boleh lengah. Sungai Woro dan Gendol memiliki potensi bahaya masing-masing hingga 3 kilometer dan 5 kilometer. Tidak hanya itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik bisa menghujani area dalam radius 3 kilometer dari puncak. Ini adalah zona merah yang harus dijauhi.

Peringatan paling krusial adalah larangan beraktivitas di daerah potensi bahaya. Warga diminta untuk tidak mendekat, apalagi melakukan kegiatan di area tersebut. Selain itu, kewaspadaan ekstra harus dilakukan terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat hujan turun di sekitar gunung. Hujan bisa membawa material vulkanik lepas menjadi aliran lahar dingin yang mematikan.

Baca Juga: Melihat Peluang Bisnis Cuci Stroller di Jogja, Berawal dari Minta Tolong, Kini Jadi Spesialis

Gangguan akibat abu vulkanik juga menjadi perhatian serius. Masyarakat diimbau untuk mempersiapkan diri, mulai dari masker hingga penutup kepala, untuk mengantisipasi jika erupsi besar terjadi dan abu terbawa angin ke pemukiman. Kesiapsiagaan adalah kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian alam.

Saat ini, data pemantauan menunjukkan bahwa suplai magma masih berlangsung intens. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran kapan saja di dalam daerah potensi bahaya. BPPTKG menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

Bagi warga yang tinggal di lereng Merapi, malam ini mungkin akan terasa lebih panjang. Suara gemuruh dan getaran halus menjadi pengingat bahwa mereka hidup berdampingan dengan raksasa yang sedang tidur gelisah. Tetap tenang, ikuti arahan pemerintah, dan selalu siap siaga adalah cara terbaik untuk bertahan. Sumber data resmi dapat diakses melalui KESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG.

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Yogyakarta Gunung Merapi BPPTKG status siaga guguran lava