Detik-Detik Gunung Merapi Muntahkan 7 Guguran Lava, Warga Diminta Waspada

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 03:51 WIB
Guguran Lava Merapi Capai 2 Km, BPPTKG Minta Warga Waspada Awan Panas.
Guguran Lava Merapi Capai 2 Km, BPPTKG Minta Warga Waspada Awan Panas.

 SLEMAN — Gunung Merapi yang menjulang gagah di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan geliatnya. Sepanjang periode pengamatan 24 jam terakhir, tepatnya pada 10 September 2026, gunung berapi yang memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut ini tidak henti-hentinya memamerkan aktivitas vulkanik yang signifikan, memicu kewaspadaan bagi warga di sekitarnya.

Berdasarkan laporan resmi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), kondisi cuaca di sekitar gunung pada hari tersebut bervariasi, mulai dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup lemah menuju arah barat, dengan suhu udara yang sejuk berkisar antara 15,1 hingga 26,7 derajat Celsius. Kelembaban udara tercatat cukup tinggi, mencapai 92,6 hingga 98,9 persen, menciptakan suasana pegunungan yang lembab dan berkabut.

Meskipun cuaca cukup bersahabat, visual gunung sempat terhalang kabut. Namun, saat kondisi membaik, pengamat dapat melihat dengan jelas kawah yang mengeluarkan asap putih tipis bertekanan lemah. Asap tersebut terlihat mengepul lembut setinggi 10 meter di atas puncak kawah, menjadi pertanda bahwa sistem magma di perut bumi masih sangat aktif.

Yang paling mencuri perhatian adalah tingginya intensitas kegempaan yang terekam oleh alat monitoring. Gunung Merapi tercatat mengalami 99 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar 2 hingga 33 mm. Gempa ini berlangsung cukup lama, yaitu antara 30,9 hingga 209,99 detik, menandakan adanya pelepasan energi yang cukup besar akibat runtuhnya material di bagian puncak.

Selain gempa guguran, aktivitas seismik juga didominasi oleh 67 kali gempa Hybrid atau fase banyak. Gempa ini memiliki amplitudo 2 hingga 35 mm dengan durasi 7,75 hingga 68,4 detik. Kehadiran gempa Hybrid biasanya mengindikasikan pergerakan fluida magma menuju permukaan, memberikan gambaran bahwa suplai magma dari kedalaman masih terus berlangsung menuju kawah.

Tak hanya itu, tercatat pula 23 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo yang lebih bervariasi, yaitu 3 hingga 80 mm. Aktivitas tektonik juga turut mewarnai, dengan satu kali gempa Tektonik Jauh berdurasi 87,17 detik, meskipun amplitudonya relatif kecil. Kombinasi dari berbagai jenis gempa ini menunjukkan dinamika yang kompleks di dalam tubuh gunung.

Baca Juga: Piala Kades Margoyoso Jadi Ajang Seleksi untuk Pemain Bupati Magelang Cup

Dampak dari aktivitas tersebut terlihat nyata melalui keterangan visual lanjutan. BPPTKG melaporkan telah terjadi guguran lava sebanyak 7 kali ke arah barat daya. Material pijar tersebut meluncur melalui alur sungai Kali Sat/Putih dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter atau 2 kilometer dari titik keluarnya lava.

Melihat kondisi tersebut, status Gunung Merapi masih bertahan pada Level III atau Siaga. Masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan selalu mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang. Potensi bahaya saat ini terbagi dalam beberapa sektor yang harus diwaspadai bersama.

Untuk sektor selatan-barat daya, bahaya guguran lava dan awan panas mengintai area Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Baca Juga: APBD Kabupaten Magelang 2026 Pendapatan Dipangkas Rp 135 Miliar, Belanja Turun Rp 90 Miliar

Data pemantauan ini menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung intensif. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk sama sekali tidak melakukan aktivitas apapun di zona berbahaya tersebut.

Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap bahaya sekunder seperti lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat turun hujan di sekitar puncak gunung. Warga juga diharapkan mengantisipasi potensi gangguan kesehatan akibat abu vulkanik jika terjadi erupsi besar.

Pihak berwenang menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak terpancing hoaks, dan selalu memantau informasi resmi dari sumber terpercaya seperti PVMBG dan BPPTKG.

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
guguran lava merapi Gunung Merapi BPPTKG status siaga merapi Berita Yogyakarta