Status Siaga Level 3, Gunung Merapi Catat 97 Guguran Lava Pijar, Guguran Lava Hampir 100 Kali  

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 06:22 WIB
Guguran Lava Merapi Capai 2 Km, BPPTKG Minta Warga Waspada Awan Panas.
Guguran Lava Merapi Capai 2 Km, BPPTKG Minta Warga Waspada Awan Panas.

SLEMAN – Gunung Merapi kembali menegaskan statusnya sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Laporan pengamatan sepanjang Senin, 7 September 2026, mencatat intensitas aktivitas vulkanik yang cukup tinggi, dengan dominasi guguran lava dan gempa hybrid.  

Cuaca di sekitar Merapi bervariasi, mulai dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup lemah ke arah barat, sementara suhu udara berkisar antara 15–23 °C. Kelembaban udara hampir menyentuh 99 persen, menjadikan kondisi di lereng gunung terasa lembap dan dingin.  

Secara visual, Merapi terlihat jelas. Asap kawah berwarna putih dengan tekanan lemah teramati naik setinggi 25 meter dari puncak. Meski tidak terlalu pekat, fenomena ini menjadi tanda bahwa aktivitas di dalam kawah masih berlangsung.  

Seismograf mencatat 97 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–55 mm dan durasi hingga 186 detik. Angka ini menunjukkan intensitas guguran lava yang cukup sering terjadi sepanjang hari.  

Selain itu, terdapat 80 kali gempa hybrid atau fase banyak. Jenis gempa ini biasanya menandakan adanya suplai magma baru dari dalam tubuh gunung. Durasi gempa hybrid berkisar antara 12–60 detik, memperkuat indikasi bahwa aktivitas magma masih berlanjut.  

Baca Juga: Prediksi Skor Lille vs Real Betis di Liga Champions, Update Tim, Susunan Pemain dan Skor Akhir

Satu kali gempa vulkanik dangkal juga terekam, dengan amplitudo 5 mm dan durasi 14 detik. Meski jumlahnya kecil, gempa jenis ini tetap menjadi indikator penting dalam memantau pergerakan magma di dekat permukaan.  

Tak hanya itu, dua kali gempa tektonik jauh juga terdeteksi. Durasi gempa mencapai lebih dari 150 detik, menandakan adanya aktivitas tektonik yang turut memengaruhi kondisi seismik di sekitar Merapi.  

BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Pada sektor tenggara, ancaman meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.  

Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Ancaman ini menuntut kewaspadaan ekstra bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lereng gunung.  

Baca Juga: Prediksi Skor Porto vs Manchester City di Liga Champions, Update Tim, Susunan Pemain dan Skor Akhir

Selain itu, bahaya lahar hujan juga perlu diantisipasi. Curah hujan tinggi di kawasan Merapi dapat memicu aliran lahar yang membawa material vulkanik ke sungai-sungai sekitar. Dampaknya bisa merusak pemukiman, lahan pertanian, hingga infrastruktur jalan.  

Gangguan akibat abu vulkanik juga menjadi ancaman nyata. Abu dapat memengaruhi kesehatan pernapasan, mengganggu aktivitas harian, serta berdampak pada transportasi. Masyarakat diimbau untuk selalu menyiapkan masker dan melindungi sumber air bersih dari kontaminasi abu.  

Meski aktivitas Merapi menimbulkan rasa cemas, kehidupan warga di lereng tetap berjalan. Petani masih turun ke ladang, anak-anak tetap berangkat sekolah, dan masyarakat berusaha menyeimbangkan kewaspadaan dengan rutinitas harian. Namun, suara gemuruh guguran di malam hari menjadi pengingat bahwa Merapi tidak pernah benar-benar tidur.  

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
Erupsi hari ini Gunung Merapi hari ini bencana hari ini Merapi Hari Ini gempa hari ini