SLEMAN - Sejumlah siswa SMPN 3 Turi, termasuk satu dari tiga sekolah yang terdampak keracunan MBG. Siswa di Kalurahan Girikerto, yang terdampak ini mengalami mual, pusing, hingga muntah.
Kepala Sekolah SMPN 3 Turi Widayati menjelaskan, pada hari itu MBG datang sekitar pukul 07.10 dan langsung dikonsumsi pada pagi hari pukul 07.30 lantaran tidak ada upacara. Upacara yang biasanya digelar setiap Senin diundur Rabu esok untuk memperingati Hari Olahraga Nasional.
Dia memastikan sekolah sudah mengikuti standar operasional sebelum mengonsumsi MBG. Diawali dengan tes organoleptik oleh guru yang piket dan ketika sudah aman setiap kelas diminta mengambil jatah. Kemudian untuk guru-guru yang mengajar di jam pertama juga seperti biasa mendampingi anak-anak untuk mengonsumsi MBG.
Baca Juga: 45 Siswa di Turi Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Sampel Makanan Diperiksa di Laboratorium
Guru-guru yang mendampingi juga meminta siswa untuk cuci tangan dan berdoa sebelum makan. Sekaligus meminta melakukan pengecekan organoleptik secara mandiri. Ketika ada tekstur atau bau yang mencurigakan, maka agar tidak dikonsumsi.
"Semua sudah terlewati dengan baik, sehingga anak-anak langsung makan seperti biasa. Kalau dilihat memang banyak yang habis," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/9).
Kemudian ada guru yang tiba-tiba mual dan muntah. Saat itu guru yang mendampingi kelas diminta mengecek kondisi para siswa. Lalu ada empat orang yang ke UKS karena mengalami mual dan sakit perut. Lalu seiring waktu, bertambah hingga dilakukan perawatan ke Puskesmas.
Total ada 23 siswa dan satu guru yang terdampak dari jumlah keseluruhan siswa sebanyak 370 orang. Siswa yang mengalami keracunan ini tersebar, ada yang kelas tujuh, delapan, maupun kelas sembilan.
Baca Juga: Kalah dari Bali United di Laga Perdana, Mental Pemain PSS Sleman Tidak Kendur
"Kami menghubungi puskesmas untuk mengirim ambulans, sehingga empat siswa yang di UKS langsung dibawa ke Puskesmas Turi dan lainnya menyusul," tambahnya.
Widayati menyebut, meski ada peristiwa ini kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan seperti biasa. Hal ini sebagai langkah agar ketika ada siswa yang mengalami gejala serupa bisa langsung tertangani lewat koordinasi dengan sekolah.
SMPN 3 Turi juga turut mendirikan poskos bersama sebagai tindak lanjut. Di sini jadi kanal informasi bagi wali murid yang datang karena mengkhawatirkan anaknya. Banyak dari mereka disebut menitipkan air kelapa maupun susu yang diharap bisa menetralisir dampak keracunan ini.
Hal ini dia sebut bentuk kepedulian orang tua pada anaknya dan sekolah juga tidak melarang. "Harapannya enggak ada lagi yang terdampak. Ketika orang tua datang, kami minta cek masuk daftar terdampak tidak. Kalau ada apa-apa, tentu kami informasikan," ujarnya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita