Panewu Anom Turi Yunan Nurtrianto menjelaskan, berdasarkan laporan data ada tiga sekolah yang terdampak keracunan. Terdiri atas SMK Muhamadiyah 1 Turi ada 19 siswa, SMPN 3 Turi 24 orang, serta SD Muhammadiyah Balerante dua orang siswa.
Para siswa mengalami gejala serupa seperti mual, pusing, sakit perut, dan muntah. Yunan menjelaskan, untuk sementara ini pemerintah kapanewon masih terus memantau sekolah yang mendapatkan MBG dari SPPG ini.
"Kami berikan pemahaman karena dari dinas kesehatan menyampaikan keracunan itu reaksinya tidak harus hari ini, bisa sampai tiga hari ke depan," katanya saat ditemui di SMPN 3 Turi, Senin (7/9).
Baca Juga: Cleberson Optimistis PSS Sleman Bisa Finish di Papan Atas
Sekolah ini disuplai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sleman Turi Wonokerto. Menurut Yunan, sebenarnya ada empat sekolah yang dapat pembagian pagi, termasuk TK Indriyasana. Tetapi sebelum dikonsumsi oleh siswa TK itu, MBG sudah ditarik imbas informasi atas peristiwa ini. Terkait menu MBG pada hari itu terdiri atas bola-bola daging, edamame, semangka, nasi putih, dan sayur kol dengan wortel.
Untuk saat ini dia sebut pemerintah terus melakukan pemantauan, termasuk dengan menyiagakan ambulans sehingga jika ada korban bisa segera dibawa ke puskesmas. Kalau pun perlu dirujuk juga dapat dibawa ke RSUD Sleman yang sudah dikoordinasikan dan siap menerima. "Kalau ada gejala-gejala bisa segera dilaporkan dan dibawa ke faskes terdekat," katanya.
Dia memastikan seluruh pembiayaan atas penanganan kesehatan siswa akan jadi tanggung jawab SPPG maupun APBD Kabupaten Sleman. Berdasarkan sepengetahuannya, ini adalah kasus kedua keracunan usai mengonsumsi MBG di Kapanewon Turi.
Disinggung soal pemberhentian sementara, Yunan menjelaskan mekanisme ini dilakukan oleh kepala SPPG di tingkat kabupaten. Penutupan dilakukan atas rekomendasi dari dinas kesehatan. Hanya saja dia mengaku belum memantau sejauh mana proses penerbitan surat keputusan tersebut.
Baca Juga: Kepada Komisi III DPR saat RDPU, Hardjuno: RUU Perampasan Aset Jangan Menakut-nakuti Masyarakat
Pemerintah Kapanewon Turi juga telah menyiapkan posko operasional sementara di kantor kapanewon. Hal ini mengingat peristiwa keracunan terjadi lintas kalurahan. "Posko penanganan di puskesmas. Kalau kami posko operasional saja," ujarnya.
Sementara itu, pantauan Radar Jogja di SPPG Wonokerto, terlihat sejumlah pegawai masih berada di area dapur. Saat awak media ingin wawancara dengan memohon izin pada sejumlah pegawai, mereka menyampaikan SPPG belum bisa memberi komentar terkait kejadian ini. Lantaran khawatir jika ada informasi yang tidak tepat akan tersebar.
"Nanti malah ke mana-mana gitu. Kami mohon maaf. Kepala kami juga ada tamu," terang pegawai tersebut. Usai awak media keluar dari halaman SPPG Wonokerto, petugas keamanan juga langsung menutup gerbang kantor SPPG.
Terpisah, Kepala Kepala Puskesmas Turi Dyah Arum Retnaningtyas menjelaskan, korban terdampak mulai dibawa ke IGD Puskesmas pukul 09.30. Terdiri atas 24 orang dari SMPN 3 Turi dan dua siswa SD Muhammadiyah Balerante.
Lalu pada pukul 11.30 datang lagi 19 siswa dari SMK Muhamadiyah 1 Turi. Seluruh korban terdampak ini telah dilakukan pemeriksaan maupun pengobatan dan kini sudah bisa pulang. "Kebanyakan memang mengeluh pusing, mual, muntah, sakit perut, gitu. Menyatakan memang tadi setelah makan MBG, seperti itu," katanya saat ditemui di Puskesmas Turi, Senin (7/9).
Penanganan pasien yang masuk ke puskesmas dia sebut diawali dengan anamnesis atau wawancara terkait keluhan yang dialami oleh pasien. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, seperti tensi, suhu, denyut jantung, dan respirasi. Para pasien juga diberikan sejumlah obat dari Paracetamol, Antasida, maupun Ranitidin.
Baca Juga: Bansos 15 Orang Distop karena Desil Berubah, Pemkal Mulyodadi Fasilitasi Pengajuan Pembaruan Data
"Kami beri obat-obat untuk pencernaan. Alhamdulillah setelah pengobatan gejalanya membaik. Jadi bisa kami izinkan untuk pulang dan dijemput orang tua," katanya.
Meski demikian, apabila nanti ketika sudah berada di rumah dan timbul gejala lanjutan, mereka yang keracunan ini diharap melapor. Puskesmas Turi dia pastikan siap melayani pasien dan kalau pun perlu nantinya dapat dirujuk ke rumah sakit. Fokusnya tidak hanya memberikan pengawasan lanjutan pada 45 orang ini, tetapi juga siswa lain yang sudah mengonsumsi MBG dan kini tidak mengalami gejala.
"Jadi kami menyampaikan itu ke sekolah-sekolah yang terdampak. Walaupun saat ini kondisi anak-anak baik, tapi kalau ada gejala nanti segera dibawa ke faskes," terang Dyah.
Di luar 45 orang ini, dia sebut juga ada dua orang yang langsung dibawa dari sekolah ke RSUD Sleman tanpa melalui perawatan di puskesmas. Dia mengaku tidak tahu persis terkait perkembangan atas keduanya.
Dyah menambahkan, Puskesmas Turi tidak sebatas melakukan penanganan pada korban keracunan, tetapi juga telah mengambil sampel makanan yang dibuat SPPG. Saat ini masih terus diproses untuk dilakukan pengecekan di laboratorium. Sampel terdiri atas bola-bola daging, edamame, semangka, sayur wortel dan kol, serta nasi putih. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita