Kepala Balai TNGM Tutut Heri Wibowo membenarkan adanya pantauan asap di kawasan Merapi. Tim lapangan yang melakukan pemantauan dari Turgo, Plunyon, Kalitalang, dan Deles melihat satu titik asap. Namun, asap tersebut terus mengecil.
“Terpantau satu titik dari pengamatan empat lokasi berbeda. Semoga terus mengecil,” kata Heri saat dikonfirmasi Minggu (6/9).
Baca Juga: Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau, YIA Batalkan 9 Penerbangan ke Soetta, Adisujipto 7 ke Halim
Berdasarkan komunikasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), kemunculan asap tersebut diduga berasal dari guguran lava Merapi. Menurut Heri, kejadian serupa sudah beberapa kali terpantau. “Harapannya agar luncuran tidak sampai vegetasi yang kering jadi masih bisa tetap terkendali,” ujarnya.
Terpisah, Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menyebut, aktivitas Gunung Merapi pada periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 menunjukkan delapan kali guguran lava ke arah barat daya. Guguran mengarah ke hulu Kali Sat atau Kali Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Merapi saat ini masih berstatus Siaga (Level III). Potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas guguran berada di sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal lima kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak maksimal tujuh kilometer.
Baca Juga: Miris! Landak Hutan Ditemukan Mati Terperangkap Dampak Karhutla di Kalimantan
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro dengan jarak maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” terang Agus.
TNGM mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di kawasan taman nasional. Laporan dapat disampaikan melalui Posko Kebakaran Hutan maupun hotline TNGM di 0815-5577-7002. Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawasan yang masuk dalam daerah potensi bahaya Merapi dan tetap mengikuti informasi resmi dari BPPTKG maupun TNGM. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita