SLEMAN - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sepanjang Jumat, 5 September 2026, gunung api teraktif di Indonesia ini kembali melontarkan puluhan kali guguran lava, sementara status kegunungapiannya tetap bertahan di Level III atau Siaga.
Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sepanjang periode pengamatan pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, tercatat 22 kali luncuran lava pijar mengarah ke sektor barat daya, tepatnya menuju Kali Sat dan Kali Krasak. Jarak luncur terjauh mencapai 2.000 meter dari puncak.
Secara visual, puncak Merapi yang berada di ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut itu masih dapat terpantau jelas meski sesekali tertutup kabut tipis hingga sedang. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih teramati membubung setinggi 15 hingga 50 meter di atas puncak, menandakan aktivitas internal gunung yang terus berlangsung.
Cuaca di seputar Merapi pada hari itu bervariasi antara cerah, mendung, dan berawan, dengan embusan angin tenang mengarah ke timur. Suhu udara tercatat berkisar 12,9 hingga 26,1 derajat Celsius, dengan kelembapan udara 45 hingga 96,2 persen dan tekanan udara antara 876,1 hingga 919,2 milibar.
Dari sisi kegempaan, alat pemantau BPPTKG mencatat 71 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 sampai 26 milimeter dan durasi antara 17,96 hingga 182,06 detik. Selain itu, terekam pula 51 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2 sampai 33 milimeter serta durasi 7,15 hingga 58,34 detik.
Baca Juga: Direktur Olahraga Liverpool, Richard Hughes Mundur dari Jabatannya, Pindah ke Arab Saudi?
Aktivitas kegempaan lain yang tercatat adalah satu kali gempa vulkanik dangkal beramplitudo 22 milimeter dengan durasi 15,92 detik, serta satu kali gempa tektonik jauh berdurasi 107,73 detik. Rangkaian data ini mengindikasikan suplai magma dari dalam perut bumi ke permukaan masih berlangsung secara aktif.
Menyikapi kondisi tersebut, BPPTKG kembali menegaskan potensi bahaya yang mengintai di sejumlah wilayah. Sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer, menjadi kawasan yang paling rawan terdampak guguran lava dan awanpanas.
Tak hanya itu, sektor tenggara turut masuk dalam radar kewaspadaan, mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG mengimbau masyarakat agar sepenuhnya menjauhi segala bentuk aktivitas di dalam daerah potensi bahaya tersebut. Warga juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awanpanas guguran (APG), terutama saat hujan turun di sekitar kawasan Merapi, mengingat material vulkanik yang menumpuk di puncak dapat terbawa aliran air hujan sewaktu-waktu.
Baca Juga: Raphinha Menjadi Pemain Brasil Pertama yang Menjadi Kapten Utama Barcelona
Selain ancaman guguran dan lahar, masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang mungkin timbul apabila terjadi erupsi. BPPTKG menyatakan akan terus memantau perkembangan aktivitas Merapi secara intensif dan segera meninjau ulang status jika terjadi perubahan signifikan.
Laporan resmi ini disusun oleh Suratno dan Yulianto, berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, dan PVMBG. Hingga kini, Merapi tetap menjadi salah satu gunung api yang paling dekat dipantau di Indonesia mengingat kepadatan penduduk di wilayah sekitarnya.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG