SLEMAN – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitasnya pada Jumat, 4 September 2026. Dalam pemantauan selama 24 jam, gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu tercatat mengalami puluhan kali gempa guguran serta pergerakan lava yang meluncur hingga 2 kilometer.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 4 September 2026 pukul 00.00–24.00 WIB, aktivitas kegempaan masih didominasi oleh gempa guguran. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat sebanyak 79 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–78 milimeter dan durasi 15,04 hingga 162,72 detik.
Selain gempa guguran, pemantauan juga merekam 66 gempa hybrid atau fase banyak. Gempa tersebut memiliki amplitudo 2–28 milimeter, dengan selisih waktu S-P antara 0,2 hingga 0,7 detik. Durasi gempa tercatat berkisar 9,55 hingga 68,4 detik.
Aktivitas kegempaan lainnya berupa empat kali gempa vulkanik dangkal. Amplitudonya berada pada kisaran 3–12 milimeter dengan durasi 9,89 hingga 28,63 detik. Sementara itu, tiga gempa tektonik jauh turut tercatat dengan amplitudo 2–80 milimeter.
Dari pengamatan visual, kondisi puncak Merapi sempat terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah masih tampak dengan warna putih dan intensitas tebal. Kolom asap teramati mencapai sekitar 100 meter di atas puncak kawah.
Baca Juga: Pulangnya Ibu Ganti Kendaraannya, Sambangi Atlet Popda Kebumen, Bupati Lilis Minta Maaf
Aktivitas lava juga menjadi perhatian. Dalam periode pengamatan tersebut, petugas mencatat empat kali guguran lava yang bergerak ke arah Kali Sat/Putih. Jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter atau sekitar 2 kilometer dari sumbernya.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas Merapi belum sepenuhnya mereda. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran, terutama di dalam wilayah yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, Gunung Merapi masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat maupun wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk daerah potensi bahaya. Keselamatan menjadi hal utama mengingat ancaman dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas gunung.
Potensi bahaya di sektor selatan-barat daya mencakup alur Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer. Ancaman juga terdapat di Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga sejauh 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
Baca Juga: Korban Carut Marut Desil Kembali Muncul di Jogja, Lansia Tinggal di Rumah Reyot Masuk Kategori Mampu
BPPTKG juga mengingatkan potensi lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif. Material tersebut diperkirakan dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Merapi. Warga di sekitar kawasan rawan diminta tetap mengikuti informasi resmi dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah lahar dan awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di sekitar Gunung Merapi. Hujan juga dapat memicu aliran material vulkanik di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Masyarakat diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat abu vulkanik serta terus memperhatikan perkembangan informasi dari pihak berwenang.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG Yogyakarta