SLEMAN – Langit di atas Kabupaten Sleman bakal kembali dihiasi warna-warni layang-layang. Namun, kali ini bukan sekadar permainan yang mengajak mata menengadah. Sleman Kite Festival 2026 disiapkan sebagai ruang perjumpaan masyarakat, komunitas, seniman, pelaku ekonomi kreatif, hingga generasi muda untuk merayakan budaya sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Festival tersebut dijadwalkan berlangsung pada 27 September 2026 di Pondok Pesantren Minggir Gus Muwafiq, Sendangrejo, Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi ini berada di kawasan persawahan yang dinilai lebih luas dan memadai untuk penyelenggaraan festival yang terus berkembang.
Mengusung tema “We Share One Sky”, Sleman Kite Festival 2026 membawa pesan sederhana tetapi kuat. Setiap orang, apa pun latar belakangnya, berada di bawah langit yang sama. Dari gagasan itu, festival ingin mempertemukan tradisi dan inovasi, komunitas dan kreativitas, serta budaya dan lingkungan dalam suasana yang inklusif.
Layang-layang dipilih bukan tanpa alasan. Dalam kehidupan masyarakat agraris, layang-layang tumbuh dari kedekatan manusia dengan alam. Hamparan sawah, hembusan angin, dan ruang terbuka menjadi bagian dari pengalaman budaya tersebut. Karena itu, festival ini mencoba menghidupkan kembali hubungan sederhana manusia dengan alam yang mulai terasa semakin jauh.
Di tengah isu perubahan iklim dan semakin terbatasnya ruang terbuka, layang-layang dapat menjadi pintu masuk untuk berbicara mengenai lingkungan. Terlebih bagi generasi muda. Permainan tradisional ini diharapkan tidak hanya menghadirkan kesenangan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa alam merupakan bagian penting dari kehidupan bersama.
Baca Juga: Bukan Sekadar Naik Gunung, Alam Jadi Tempat Anak Muda Menemukan Ketenangan
Rangkaian kegiatan yang disiapkan pun dibuat beragam. Festival akan menghadirkan kompetisi dan ekshibisi layang-layang, workshop lingkungan, edukasi pertanian, pasar kreatif, pemutaran film, hingga ruang temu komunitas budaya. Berbagai kegiatan itu dirancang agar pengunjung tidak hanya datang untuk melihat layang-layang, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru.
Aspek lingkungan juga menjadi bagian penting dalam konsep acara. Penyelenggara membawa prinsip ramah lingkungan dengan berupaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendorong penggunaan perlengkapan yang dapat digunakan kembali, serta menerapkan pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.
Sleman Kite Festival 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian Sleman Creative Weeks 2026. Festival layang-layang ini sekaligus ditetapkan sebagai agenda pembuka. Skalanya dirancang bersifat kabupaten dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor, sekaligus membuka ruang bagi gagasan baru dan kerja sama yang lebih luas.
Lebih jauh, kegiatan ini membawa harapan untuk memperkuat identitas Sleman sebagai kabupaten kreatif. Budaya dan lingkungan tidak ditempatkan sekadar sebagai latar sebuah acara, melainkan sebagai ruang hidup bersama. Di dalamnya, masyarakat dapat berbagi cerita, kreativitas, harapan, dan gagasan mengenai masa depan.
Baca Juga: Prediksi Ipswich Town vs Liverpool, Kabar Terbaru, Susunan Pemain, The Reds Incar Kemenangan Pertama
Festival ini juga membuka ruang bagi pelaku UMKM, komunitas layang-layang, seniman, serta masyarakat umum. Pertemuan berbagai unsur tersebut diharapkan menciptakan suasana gotong royong yang membuat festival terasa dekat dengan kehidupan warga, bukan hanya menjadi tontonan sesaat.
Di balik kegiatan tersebut, komunitas Akar Padi menjadi salah satu bagian penting dari gagasan yang dibawa. Komunitas yang tumbuh di lanskap budaya dan alam Sleman sejak 2019 ini bergerak pada persilangan seni, budaya, pertanian, lingkungan, dan kerja kolektif. Semangatnya adalah mengajak generasi muda kembali merawat bumi dan tradisi melalui berbagai bentuk kreativitas.
Pada akhirnya, Sleman Kite Festival 2026 ingin mengajak masyarakat menikmati sesuatu yang mungkin terlihat sederhana: menatap layang-layang yang menari bersama angin. Dari sana, muncul pesan yang lebih dalam tentang kebersamaan, keberagaman, budaya, dan kepedulian terhadap bumi. Sebab, seperti tema yang diusung, di bawah satu langit yang sama, ada ruang bagi siapa pun untuk berbagi kreativitas, menjaga alam, dan menumbuhkan harapan.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja