SLEMAN - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan tren tinggi dalam sepekan terakhir. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung yang berada di perbatasan empat kabupaten dan dua provinsi ini masih bertahan pada status Level III atau Siaga.
Gunung dengan ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut berada di wilayah administratif Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, yang mencakup Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pemantauan dilakukan sepanjang periode 3 September 2026, mulai pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.
Dari sisi cuaca, kondisi di sekitar puncak bervariasi antara cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup lemah ke arah barat, dengan suhu udara berkisar 12,9 hingga 26 derajat Celsius. Kelembaban udara tercatat antara 81,3 sampai 94 persen, sementara tekanan udara berada di rentang 874,7 hingga 919 milibar.
Secara visual, puncak Merapi masih dapat diamati meski sesekali tertutup kabut tipis hingga tebal. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang, mencapai ketinggian sekitar 25 meter di atas puncak kawah.
Dari sisi kegempaan, aktivitas Merapi tergolong ramai. Tercatat 74 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 sampai 25 milimeter dan durasi antara 31,2 hingga 194,03 detik. Kondisi ini mengindikasikan adanya material yang terus meluncur dari kubah lava.
Baca Juga: Ditariki Berulang di Pecinan, Wali Kota Magelang Minta Parkir Jangan Jadi Beban Warga
Selain itu, terekam 81 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2 hingga 39 milimeter dan durasi 8,89 sampai 65,64 detik. Gempa jenis ini umumnya berkaitan dengan pergerakan magma di kedalaman dangkal hingga menengah.
BPPTKG juga mencatat tiga kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 5 hingga 25 milimeter, serta dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 2 sampai 65 milimeter. Rangkaian data ini menunjukkan aktivitas internal gunung yang masih aktif secara menyeluruh.
Kejadian paling mencolok dalam laporan ini adalah teramatinya satu kali guguran lava ke arah Kali Sat atau Kali Putih. Material tersebut meluncur hingga jarak maksimum 2.000 meter dari puncak, menegaskan bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung.
Menyikapi data tersebut, BPPTKG memetakan potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awanpanas guguran. Sektor selatan-barat daya menjadi perhatian khusus, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Baca Juga: Kerja Sama Koperasi dan Korporasi Jadi Solusi Usaha Peternakan Rakyat di Gunungkidul
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mengarah ke Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas apa pun di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya. Warga di sekitar aliran sungai berhulu di Merapi juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awanpanas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak.
Selain ancaman guguran material, warga juga diminta mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang berpotensi terbawa angin. BPPTKG menegaskan status aktivitas akan segera dievaluasi apabila terjadi perubahan signifikan pada data pemantauan ke depan.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG