SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika vulkanik pada Rabu, 2 September 2026. Berdasarkan laporan pemantauan selama 24 jam, gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu masih berstatus Level III atau Siaga.
Pemantauan Badan Geologi melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat adanya dua kali guguran lava. Material tersebut meluncur ke arah barat daya, menuju kawasan Kali Sat/Putih, dengan jarak maksimum mencapai 2.000 meter.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas vulkanik Merapi masih berlangsung. Selain guguran lava, instrumen pemantauan juga merekam sejumlah aktivitas kegempaan selama periode pengamatan pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.
Kegempaan guguran tercatat sebanyak 80 kejadian. Amplitudonya berada pada kisaran 2 hingga 27 milimeter, dengan durasi masing-masing kejadian sekitar 34,99 hingga 201,57 detik.
Aktivitas hybrid atau fase banyak juga cukup dominan. Sebanyak 63 kejadian tercatat dengan amplitudo 2–37 milimeter. Sementara itu, durasinya berkisar 9,38 hingga 61,26 detik, dengan nilai S-P antara 0,5 sampai 0,8 detik.
Baca Juga: Gaji 3x Lipat, Richarlison Setujui Kesepakatan Personal dengan Trabzonspor
Pemantauan turut mencatat tiga gempa vulkanik dangkal. Kejadian tersebut memiliki amplitudo 2–33 milimeter dengan durasi 5,06–13,89 detik. Selain itu, terdapat dua gempa tektonik jauh dengan amplitudo 3–8 milimeter.
Dari sisi visual, kondisi puncak Merapi sempat terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat 0–III. Asap kawah bertekanan lemah juga teramati. Warnanya putih dengan intensitas tipis dan ketinggian sekitar 100 meter di atas puncak kawah.
Cuaca di sekitar Merapi sepanjang periode pengamatan bervariasi, mulai cerah, berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah ke sejumlah arah, yakni utara, timur dan barat. Suhu udara tercatat berkisar 14,7–22 derajat Celsius dengan kelembapan 64–99 persen.
BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma ke dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran, terutama di wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan potensi bahaya.
Baca Juga: Klaim Mylanta sebagai Semprotan Merica, SEMA UGM Minta Polda DIY Ralat dan Minta Maaf pada Publik
Zona bahaya mencakup sejumlah alur sungai di sektor selatan-barat daya. Potensi guguran lava dan awan panas dapat mencapai Sungai Boyong hingga lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak dan Bebeng hingga tujuh kilometer. Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan potensi bahaya. Warga juga perlu mewaspadai ancaman lahar maupun awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di sekitar Gunung Merapi. Ancaman abu vulkanik juga perlu diantisipasi apabila terjadi erupsi. Sementara itu, jika aktivitas Merapi mengalami perubahan signifikan, tingkat aktivitas akan ditinjau kembali oleh pihak berwenang.Tags: Gunung Merapi, Merapi Yogyakarta, BPPTKG, Aktivitas Vulkanik Merapi, Erupsi Merapi
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG Yogyakarta