SLEMAN - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan komitmennya dalam merawat nilai-nilai luhur Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dukungan itu disampaikan dalam rangka peringatan 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY melalui kegiatan Kenduri Memetri Keistimewaan yang digelar di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Sleman, Senin, 31 Agustus 2026.
Bagi LPS, status keistimewaan tidak boleh hanya menjadi formalitas atau seremoni tahunan. Nilai-nilai yang menjadi fondasi Yogyakarta harus terus dihidupkan agar tetap relevan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Plt. Kepala Divisi Kehumasan LPS, Rhein Valleno Oktoriansyah, menekankan pentingnya menjaga warisan tersebut sebagai inspirasi tata kelola pembangunan yang berpihak pada kepentingan warga.
“Kami berharap nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi Keistimewaan DIY terus lestari dan menjadi inspirasi dalam pembangunan yang mengutamakan kepentingan masyarakat,” ujar Rhein. Ia menambahkan bahwa menjaga keistimewaan tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, pelaku budaya, pelaku UMKM, hingga lembaga negara seperti LPS.
Semangat kolaborasi itu selaras dengan filosofi Yogyakarta yang digali dari kearifan lokal: Mulyaning Manah, Mukti Ing Bumi, Wibawaning Jagad. Nilai-nilai ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus menghasilkan kesejahteraan lahir dan batin sekaligus menjaga martabat manusia dan alam.
Pesan serupa disampaikan Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, yang mewakili Sekretaris Daerah DIY. Menurutnya, kegiatan memetri keistimewaan adalah momentum untuk menengok perjalanan yang telah dilalui, membaca kondisi saat ini, dan memandang masa depan Yogyakarta.
Baca Juga: Pelatih PSS Pieter Huistra Mengaku Tak Gentar Hadapi Bali United pada Partai Pembuka Super League
“Keistimewaan tidak berhenti pada status,” tegas Ariyanti. Kebudayaan pun tidak boleh hanya dijadikan tontonan atau acara seremonial. Ia harus menjadi cara berpikir, cara bekerja, dan landasan dalam membangun kehidupan bersama. Nilai Hamemayu Hayuning Bawana, misalnya, semakin relevan di tengah tekanan lingkungan dan pembangunan. Begitu pula semangat sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh yang mengajarkan fokus, semangat, kepercayaan diri yang rendah hati, serta tanggung jawab tanpa menghindar.
Keistimewaan, lanjut Ariyanti, harus semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, baik di desa maupun kota. Ia harus hadir dalam ruang budaya, ekonomi, pendidikan, pengelolaan lingkungan, pelayanan publik, hingga upaya menciptakan kehidupan yang adil, tenteram, dan bermartabat. Memetri berarti merawat akar sekaligus memastikan nilai-nilai itu tetap hidup dan mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Semangat bahwa keistimewaan milik seluruh masyarakat Yogyakarta diwujudkan secara simbolis melalui penyerahan lima jodhang berisi hasil bumi. Lurah Tamanmartani, R. Gandang Hardjanata, menjelaskan bahwa lima jodhang itu mewakili empat kabupaten dan satu kota di DIY. “Keistimewaan itu bukan hanya milik pemerintah daerah atau Keraton, melainkan milik seluruh warga Yogyakarta,” katanya.
Rangkaian kegiatan di Tamanmartani melibatkan warga lintas generasi. Pagi hari, pelajar SMA dan SMK diajak sinau bersama tentang sejarah panjang yang menjadikan Yogyakarta istimewa. Sore harinya, kirab budaya melibatkan warga dari 22 pedukuhan yang menampilkan ekspresi dan kreativitas masing-masing wilayah.
Baca Juga: 31.649 Penerima Bansos di DIY Terindikasi Judol, Terbanya Justru di Kabupaten Gunungkidul
Selain kirab, tradisi lokal dihidupkan kembali melalui lomba wiru jarik, dakon, dan festival wowongan sawah. Wowongan sawah, yang dulu digunakan petani untuk mengusir burung tanpa pestisida, kini diangkat menjadi ruang kreasi warga. Setiap pedukuhan diberi kebebasan menciptakan bentuk dan tampilan yang unik, sehingga kearifan lokal tetap hidup dan diterima generasi muda.
Melalui kegiatan ini, LPS dan segenap elemen masyarakat Yogyakarta menegaskan bahwa merawat keistimewaan adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi yang tulus dan berkelanjutan diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai luhur Yogyakarta sebagai sumber daya untuk menjawab persoalan nyata dan mewujudkan kesejahteraan yang lebih merata.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja