Puncak Memetri Kaistimewan sendiri berlangsung semarak. Diawali dengan kirab budaya, makan bersama bertajuk Kembul Bujana Memetri Kaistimewan, pementasan tari, hingga pemotongan tumpeng.
Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY Ariyanti Luhur Tri Setyarini menjelaskan, 14 tahun ini jadi momentum untuk berhenti sejenak, membaca keadaan hari ini, sekaligus memandang masa depan keistimewaan DIY dengan lebih jernih.
Baca Juga: Ortu Ungkap Sesekali Transfer ke Dua Anak Ketua Yayasan Little Aresha hingga Korban Trauma Air
Dia menegaskan, keistimewaan tidak berhenti pada status, kewenangan, progam, ataupun simbol. Keistimewaan harus hadir dan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Keistimewaan harus mampu jadi instrumen untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat," katanya saat membacakan sambutan Sekretaris Daerah DIY pada Puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun di Balai Budaya Tamanmartani, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Sleman, Senin (31/8/).
Dia menyebut, pemanfaatan dana keistimewaan (danais) menjadi salah satu instrumen dalam memperkuat nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta. Saat ini pelaksanaannya terus dikembangkan sehingga tidak hanya memenuhi aspek pembangunan fisik, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Di tingkat kalurahan, danais turut mendukung reformasi kalurahan, pemberdayaan masyarakat, pemunculan inovasi, serta peningkatan kesejahteraan pamong melalui bantuan keuangan khusus kalurahan urusan kelembagaan.
Baca Juga: Prediksi Chelsea vs Brighton: The Blues Bidik Kemenangan Ketiga Beruntun
Penguatan kebudayaan juga tetap menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlanjutan keistimewaan DIY. Upaya itu diwujudkan melalui penyediaan ruang ekspresi serta dukungan terhadap karya budaya masyarakat. Hingga saat ini, Taman Budaya telah terbangun di tiga kabupaten/kota, yakni Kulon Progo, Gunungkidul, dan Kota Jogja. Sementara itu, Balai Budaya telah terbangun di 15 kalurahan.
"Harapannya capaian ini memberi bukti bahwa dana keistimewaan itu memang migunani, mrantasi, murakabi," tambahnya.
Menurut Ariyanti, peringatan tahun ini memang terkesan lebih sederhana dengan menekankan pada aspek rasa syukurnya. Termasuk mendekatkan jarak antara pemerintah dengan masyarakatnya.
Dia menegaskan, hal terpenting dalam 14 tahun UUK DIY ini bukan gebyarnya, tetapi pemaknaannya. Tidak juga sebatas seremoni karena acara ini turut menghadirkan berbagai layanan publik yang dapat diakses masyarakat. Mulai dari pameran UMKM, pasar murah, layanan pajak keliling, hingga skrining kesehatan.
"Ukuran keberhasilan keistimewaan adalah sejauh mana bisa memberikan perubahan yang bermakna bagi masyarakat," tambahnya.
Dalam kesempatan ini dia juga menegaskan, kebudayaan tidak cukup ditempatkan sebagai tontonan ataupun seremoni. Kebudayaan harus jadi cara berpikir, cara bekerja, dan cara membangun kehidupan bersama. Sesuai dengan nilai hamemayu hayuning bawana dan sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh.
Dalam kesempatan ini Paguyuban Lurah dan Pamong DIY Nayantaka turut memberikan tanda kasih berupa lima buah jodang. Jumlah ini mewakili kabupaten dan kota di DIY.
Ketua Nayantaka Gandang Hardjanata menjelaskan, jodang sebagai simbol bahwa keistimewaan bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik masyarakat. Peti yang biasanya diisi makakan dan hasil bumi cara penggunaannya mesti digotong bersama-sama. Hal ini dia sebut sebagai simbol atas semangat gotong royong yang melekat di DIY.
"Memetri kaistimewan ini jadi pengingat bahwa kebudayaan penting untuk membangun masyarakat yang guyub rukun, mandiri, dan bermartabat," katanya.
Baca Juga: Sikut Newcastle! Perburuan Winger Rp 1,2 Triliun Makin Panas Setelah Arsenal Ditolak Julian Alvarez
Lurah Tamanmartani ini menjelaskan, dalam rangkaian puncak peringatan 14 tahun UUK DIY ada berbagai kegiatan yang digelar. Salah satunya kompetisi membuat memedi sawah. Ini menunjukkan bahwa para petani sebagai elemen penting dalam ketahanan pangan di DIY masih banyak yang menggunakan mekanisme tradisional.
Hanya saja dalam kesempatan ini bentuknya memang dikreasikan sehingga lebih menarik. "Di desa itu pertaniannya juga tidak semua disemprot, tidak semua pakai pestisida," ujarnya.
Salah seorang warga yang hadir dalam acara, Irah Darminto menjelaskan, acara ini sangat menarik karena memadukan unsur budaya. Dia juga bisa menemukan makanan tradisional seperti nasi berkat yang tidak bisa ditemukan pada hari-hari biasa.
Perempuan 67 tahun ini juga teringat masa kecilnya karena banyak orang-orangan sawah yang dipajang sepanjang balai budaya. "Harapannya kegiatan seperti ini semakin sering karena menghibur," katanya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita