YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali meningkat pada Jumat (28/8/2026) malam. Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi terjadinya awan panas guguran (APG) atau wedhus gembel dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter.
Peristiwa itu terjadi pada pukul 21.22 WIB, meluncur ke arah barat daya menuju hulu Kali Sat atau Kali Putih. Awan panas tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 87,74 mm dan durasi gempa selama 116,97 detik. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai dampak erupsi terhadap permukiman maupun aktivitas masyarakat.
Sepanjang periode pengamatan 24 jam pada Jumat (28/8/2026), BPPTKG mencatat berbagai aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Terjadi 103 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-45 mm dan durasi 36,59 hingga 209,08 detik. Selain itu, tercatat 54 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 2-32 mm serta satu kali awan panas guguran. Gunung Merapi yang memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut ini juga mengeluarkan asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 25 meter di atas puncak kawah.
Kondisi cuaca di sekitar gunung terpantau cerah hingga berawan dengan angin bertiup lemah ke arah utara, timur, dan barat. Suhu udara berkisar antara 13,6 hingga 25,7 derajat Celcius dengan kelembaban 46,3 hingga 89,9 persen serta tekanan udara 874,5 hingga 922 mmHg.
BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Kepala BPPTKG mengingatkan bahwa suplai magma masih berlangsung, yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu.
Baca Juga: Ortu dan Wali Heran, Lokasi Strategis dan Asri kenapa SDN Hargomulyo Di-Regrouping?
Potensi bahaya saat ini meliputi:
· Sektor barat daya: Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km)
· Sektor tenggara: Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (5 km)
· Radius 3 km dari puncak jika terjadi letusan eksplosif
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya dan menjauhi alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Warga juga diminta mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.
"Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali," demikian pernyataan resmi BPPTKG.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG