SLEMAN - Proses pembangunan RSUD Sleman sebagai salah satu proyek prioritas masih belum bisa dilakukan. Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman menyebut ada perubahan desain yang berdampak pada membengkaknya anggaran yang diperlukan.
Kepala DPUPKP Kabupaten Sleman Sukarmin menjelaskan, kebutuhan anggaran semula sebesar Rp 132 miliar kini menjadi Rp 153 miliar. Kondisi ini terjadi dalam rangka memenuhi kriteria rumah sakit yang terstandarisasi sesuai Peraturan Kementerian Kesehatan. Salah satu yang diubah adalah posisi nurse station menjadi di tengah-tengah ruang perawatan agar proses pemantauan pasien lebih efisien.
Baca Juga: Hakim PN Sleman Tolak Permohonan Praperadilan, Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji Batal Bebas
Desain tata letak ini berpengaruh pada aspek mekanikal dan elektrikal yang diperlukan. Aspek lainnya adalah lift, dari semula hanya tiga titik kini menjadi empat. Hal ini demi memenuhi persyaratan mitigasi dalam menghadapi bencana kebakaran.
"Kalau saat ini kami masih menunggu persetujuan alokasi anggarannya dengan dewan," kata Sukarmin saat ditemui di ruang kerjanya Rabu (26/8).
Dia mengaku optimistis proses pembangunan gedung lima lantai ini tetap bisa dilakukan tahun ini ketika perubahan anggaran ini disetujui. Apalagi proses reviu desain dan pembersihan lahan seluruhnya sudah beres. "Untuk pembangunannya nanti secara multiyears," katanya.
Baca Juga: Tanah Pengganti TKD Palihan Kulon Progo Bermasalah: Lahan Warga Dicoret Tiba-tiba Gegara SUTT
Sukarmin mengakui bahwa perencanaan RSUD Sleman ini melalui proses panjang dan menghadapi sejumlah tantangan. Dari sebelum pandemi Covid-19 sempat direncanakan lima lantai, lalu ada perubahan menjadi tiga lantai, dan kini menjadi lima lantai lagi.
Hanya saja ternyata secara desain tata letak masih ada yang perlu disempurnakan meski saat itu secara anggaran sudah disetujui dan proses pembangunan hampir mulai dilakukan. Hal ini adalah hasil dari workshop standarisasi rumah sakit di Jakarta dan desain yang ada mendapat banyak reviu sehingga mengakibatkan sejumlah perubahan. "Dokumen sudah mau dikirimkan ke pengadaan, tapi di-hold dari hasil konsultasi itu," katanya.
Hanya saja, dia menegaskan bahwa proses perubahan ini adalah murni optimalisasi pelayanan. Harapannya tentu tetap RSUD Sleman bisa segera dibangun, apalagi direncanakan nantinya akan mendapat seperangkat alat lengkap dari kementerian untuk penanganan jantung. "Harapannya nanti jadi RS dengan layanan lengkap stroke dan jantung. Jadi bisa bersaing dengan RS besar lainnya," tandasnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita