Penuhi Target 450 Ton Per Hari, Rumah Makan di Sleman Akan Ikut Pasok Sampah untuk PSEL    

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 20:45 WIB
Kepala DLH Kabupaten Sleman Junaidi. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
Kepala DLH Kabupaten Sleman Junaidi. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

SLEMAN - Target memasok 450 ton sampah per hari ke fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Piyungan, Bantul, membuat Pemkab Sleman harus mengoptimalkan seluruh sumber sampah. Tak hanya dari rumah tangga, restoran dan rumah makan di kawasan komersial juga akan menjadi pemasok sampah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Junaidi mengatakan, skema penanganan sampah melalui PSEL saat ini masih dalam tahap finalisasi perjanjian kerja sama (PKS). Sebelumnya, nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani pada 11 Agustus di Kantor Gubernur DIY.

Baca Juga: Umbul Tirtomulyo: Jejak Tradisi Padusan dan Sejarah di Desa Kemasan

Dalam kerja sama tersebut, Kabupaten Sleman direncanakan mendapat alokasi pasokan sebanyak 450 ton sampah setiap hari. Junaidi optimistis target tersebut dapat dipenuhi karena sampah yang dikirim ke PSEL tidak harus dalam kondisi terpilah.

"Nanti didiamkan dulu karena ada tempat untuk menampung, jadi diharap sudah lebih kering dan dibakar kalorinya sudah lebih tinggi," katanya saat dikonfirmasi Selasa (25/8).

Berdasarkan penghitungan DLH Sleman, jumlah penduduk yang mencapai sekitar 1,1 juta jiwa. Dengan asumsi produksi sampah 0,52 kilogram per orang per hari menghasilkan lebih dari 500 ton sampah setiap hari.

 Baca Juga: SSA Kategori Baik saat Re-Risk Assessment, PSIM Jogja Tetap Perlu Benahi Sejumlah Fasilitas

Jumlah tersebut belum memperhitungkan sampah dari sektor usaha, terutama kawasan komersial yang memiliki aktivitas tinggi. Restoran dan rumah makan menjadi salah satu sumber sampah yang nantinya turut masuk dalam rantai pasokan PSEL. "Kawasan komersial itu potensi sampahnya banyak juga. Jadi restoran dan rumah makan akan ikut menyetor," ujarnya.

Potensi sampah terbesar dari sektor komersial berada di kawasan perkotaan dengan aktivitas dan jumlah penduduk tinggi, seperti Kapanewon Depok, Ngaglik, dan Gamping.

Untuk mendukung perluasan layanan persampahan, DLH Sleman juga menyiapkan sejumlah infrastruktur pendukung. Salah satunya melalui penambahan transfer depo. Saat ini terdapat 14 transfer depo yang tersebar di tujuh kapanewon.

 Baca Juga: Mahasiswa Kedepankan Gerakan Intelektual, Tak Mau Terjebak Aksi Provokatif Akhir Agustus

Jumlah tersebut direncanakan bertambah 10 titik sehingga nantinya dapat menjangkau seluruh 17 kapanewon di Sleman. Penambahan armada pengangkut sampah juga disiapkan untuk memperkuat sistem pengumpulan dan distribusi sampah.

 

Saat ini, DLH Sleman memiliki 32 unit truk sampah. Jumlah tersebut ditargetkan bertambah menjadi 50 unit dengan tambahan 18 armada. Sebanyak delapan truk telah diadakan pada 2026, sedangkan 10 unit lainnya telah dianggarkan untuk 2027.

 

Meski PSEL menjadi salah satu bagian dari strategi penanganan sampah, Sleman tidak sepenuhnya bergantung pada fasilitas tersebut. Pemkab Sleman tetap mengoptimalkan tiga tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), yakni TPST Sendangsari, TPST Tamanmartani, dan TPST Donokerto.

 

"Dulu memang ada rencana mau nambah satu TPST di Moyudan, tetapi sudah dibatalkan," tambah Junaidi.

 

Dengan menggabungkan pengolahan di tingkat TPST dan pemanfaatan PSEL, Pemkab Sleman menargetkan sistem persampahan dapat berjalan lebih terintegrasi. Di sisi lain, keterlibatan sektor komersial seperti restoran dan rumah makan menjadi bagian penting untuk memastikan pasokan sampah menuju PSEL dapat terpenuhi setiap hari. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) PSEL DLH Sleman Pemkab Sleman Sampah