Miliki Ekosistem Perfilman dan Ekraf Lengkap, Sleman Berambisi Raih Predikat Kota Kreatif UNESCO

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:45 WIB
Bupati Sleman Harda Kiswaya. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
Bupati Sleman Harda Kiswaya. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
 
SLEMAN - Kabupaten Sleman berkomitmen jadi bagian jejaring kota film dunia melalui UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Ambisi ini usai dari panitia seleksi nasional Kementerian Ekonomi Kreatif memutuskan bahwa Bumi Sembada lolos seleksi nasional tahap II pengusulan nominasi anggota UCCN 2027 bidang Film.
 
Bupati Sleman Harda Kiswaya menyebut, film, animasi, dan video bukan hanya sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif (ekraf). Namun, sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah. Targetnya adalah bisa membangun ekosistem perfilman yang inklusif dan berkelanjutan. "Sleman telah memiliki ekosistem perfilman dan ekonomi kreatif yang cukup lengkap," katanya, Minggu (23/8). 
 
Baca Juga: Layang-Layang Terbang tanpa Kerangka pada Event Parangkusumo International Kite Festival
 
Dia sebut Kabupaten Sleman telah memiliki studio animasi dan film, komunitas perfilman, lokasi produksi film, lembaga pelatihan, hingga perguruan tinggi maupun SMK yang selaras. Pada 2023 Sleman juga telah ditetapkan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia subsektor film, animasi, dan bideo berdasarkan Keputusan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 
 
Perkembangan industri film ini dia pastikan akan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Fokus utamanya kepada anak-anak dan generasi muda, termasuk dari keluarga kurang 
mampu. Salah satunya dengan Program Sleman Pintar periode 2022–2025 yang telah dialokasikan pembiayaan sebesar Rp 13,5 miliar. Program ini melibatkan hampir 500 lulusan SMA sederajat dalam pendidikan film, animasi, dan video. 
 
Baca Juga: Praperadilan Jadi Bahan Evaluasi Dinar Kripsiaji, Fokus Petakan Kasus Dana Hibah Pariwisata
 
"Program ini akan terus ditingkatkan agar anak-anak Sleman tidak hanya jadi penonton, tapi juga pencipta," ujar Harda. 
 
Untuk bisa meraih predikat Kota Film UNESCO, Pemkab Sleman juga akan membentuk Komisi Film Daerah. Lembaga ini akan menjadi instrumen kolaborasi dan fasilitasi antara pemerintah dengan berbagai pemangku kepentingan perfilman. Ketika ekosistem yang dibangun sudah kuat, dia yakin bisa terlahir karya-karya yang dapat dibawa ke dunia internasional. Agar nantinya bisa memperoleh inventasi demi meningkatkan pendapatan asli daerah. 
 
“Menuju UCCN bukan sekadar mengejar predikat, tetapi bagaimana ekosistem film benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," tegasnya. 
 
Baca Juga: PGN Kenalkan Ekosistem Green Economic Life di Sleman melalui Suadesa Festival 2026
 
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Abu Bakar menjelaskan, ada Studio Alam Gamplong di Kapanewon Moyudan yang jadi latar film Bumi Manusia dan Sultan Agung. Lokasinya berkembang jadi aset ekonomi kreatif dan destinasi wisata. Sleman juga tengah menyiapkan Taman Budaya Sleman sebagai kawasan budaya terpadu. Untuk nantinya bisa digunakan sebagai ruang ekspresi dan komunikasi bagi komunitas film serta pelaku ekonomi kreatif.
 
"Sleman punya banyak komunitas film dan anak-anak yang bekerja di bidang animasi," tambahnya. (del) 
Editor : Sevtia Eka Novarita
jejaring kota film dunia UNESCO Creative Cities Network (UCCN) ekosistem perfilman Film ekonomi kreatif