SLEMAN - Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda akan beristirahat. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas vulkanik gunung paling aktif di Indonesia itu masih berada pada level tinggi sepanjang periode pengamatan Kamis, 21 Agustus 2026.
Dalam laporan MAGMA-VAR yang dirilis PVMBG, status Merapi masih bertahan di Level III atau Siaga. Gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut yang berada di perbatasan Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten ini terus menunjukkan dinamika internal yang intens.
Secara meteorologi, kondisi cuaca di sekitar puncak terpantau cerah hingga mendung. Angin berhembus pelan ke arah barat dengan suhu udara berkisar 15,2 hingga 28 derajat Celcius dan kelembaban 70 sampai 74,6 persen.
Dari sisi visual, puncak Merapi terlihat jelas hingga tertutup kabut tipis sampai tebal. Teramati kepulan asap kawah berwarna putih dengan tekanan lemah, mengembus setinggi sekitar 100 meter dari atas kawah dengan intensitas sedang.
Baca Juga: Ngakunya untuk Kebutuhan Sehari-hari, Pasutri 14 Kali Curi Kambing sejak 2025
Yang paling mencolok adalah aktivitas kegempaannya. Seismograf BPPTKG mencatat rentetan gempa yang cukup padat. Tercatat 106 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-80 mm dan durasi hingga 211 detik. Selain itu, ada 73 kali gempa hybrid atau fase banyak, 3 kali gempa vulkanik dangkal, dan 1 kali gempa tektonik jauh.
Aktivitas guguran material juga terkonfirmasi secara visual. Petugas di lapangan melihat 8 kali guguran lava yang meluncur ke arah barat daya, tepatnya mengarah ke hulu Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter atau 2 kilometer dari puncak.
Melihat suplai magma yang masih terus berlangsung, BPPTKG menegaskan potensi bahaya belum surut. Masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas di dalam zona bahaya yang telah ditetapkan.
Untuk sektor selatan-barat daya, potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran (APG) meliputi Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Untuk lontaran material vulkanik jika terjadi erupsi eksplosif, diperkirakan bisa menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Baca Juga: Sajikan Tari Kolosal dan Makan Bareng Nasi Tempelang di Upacara Hari Jadi ke-397 Kebumen
Warga di sekitar Merapi juga diminta untuk selalu waspada terhadap bahaya lahar, terutama saat hujan turun di kawasan puncak. Ancaman abu vulkanik juga perlu diantisipasi karena dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan.
BPPTKG memastikan akan terus memantau perkembangan dan akan segera meninjau ulang status aktivitas jika terjadi perubahan signifikan.
Laporan ini disusun oleh Tri Mujiyanta, pengamat Gunungapi Merapi.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG Yogyakarta