Sampah Dapur dan Kotoran Ternak di Sleman Kini Bisa Disulap Jadi Pupuk Bernilai Jual, Begini Caranya

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 22:07 WIB
Tim Pengabdian Bersama Mitra Dampingi Warga Olah dan Pasarkan Pupuk Organik dari Limbah Lokal. 
Tim Pengabdian Bersama Mitra Dampingi Warga Olah dan Pasarkan Pupuk Organik dari Limbah Lokal. 

 SLEMAN – Sampah dapur dan kotoran ternak yang selama ini sering dibuang begitu saja kini mulai dilirik sebagai komoditas bernilai bagi sektor pertanian. Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, mendapat pendampingan dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk hayati berbasis sumber daya lokal.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mengangkat tema "Pembuatan Pupuk Hayati Berbasis Sumber Daya Lokal". Tujuan utamanya adalah membekali warga dengan keterampilan mengelola limbah sekaligus mendukung sistem pertanian yang ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar, program ini diharapkan dapat menekan biaya produksi, mengurangi volume sampah, dan menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Berdasarkan hasil asesmen bersama Pemerintah Kapanewon Moyudan pada April 2026, Dusun Sumberrahayu terpilih sebagai lokus pemberdayaan. Tim pengabdian kemudian menggelar rangkaian pelatihan dan pendampingan secara bergilir di empat KWT mulai Juni hingga Agustus 2026. Keempat kelompok tersebut adalah KWT Ngudi Rejeki, Saren, Sumber Rejeki, dan Gangsal Tani.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Suratini Yang Berhasil Kenalkan Umbi-umbian lewat Konten Uniknya

Dalam pelatihan, para peserta tak hanya menerima materi teori, tetapi juga langsung mempraktikkan cara mengolah limbah organik berupa sisa sayuran, buah-buahan, dan kotoran ternak menggunakan tong komposter. Sebagai aktivator, mereka menggunakan EM4 dan molase, serta diperkenalkan pula alternatif aktivator dari bahan lokal guna mendukung kemandirian produksi. Setelah melalui proses fermentasi sekitar satu bulan, limbah tersebut berubah menjadi pupuk organik padat dan cair yang siap diaplikasikan ke tanaman.

KWT Sumberrahayu Terima Inovasi Teknologi Pengolahan Limbah Organik. 
KWT Sumberrahayu Terima Inovasi Teknologi Pengolahan Limbah Organik. 

Pendampingan tak berhenti pada aspek teknis. Tim pengabdian juga memperkenalkan strategi pemasaran berbasis digital marketing. Langkah ini diharapkan mampu membuka peluang bagi KWT untuk mengembangkan pupuk organik produksinya menjadi produk bernilai jual.

Ketua KWT Sumberrahayu, Bu Darini, menyambut baik kegiatan ini. "Selama ini sisa sayuran dan kotoran ternak hanya kami buang. Bahkan kadang menimbulkan bau dan mengundang lalat. Sekarang kami tahu cara mengubahnya jadi pupuk yang berguna untuk tanaman. Kami berharap pendampingan dari UPN bisa terus berlanjut," ujarnya penuh antusias.

Tim pengabdian diketuai oleh Dr. Dwi Aulia Puspitaningrum, S.P., M.P., bersama Dr. Khoirul Hikmah, S.E., M.Si., Wini Prayogi Abdila, S.T.P., M.Sc., dan Putri Aditya Padma Pertiwi, S.P., M.Agr. Dua mahasiswa Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Yogyakarta, Nayshila Nur Salsabila dan Dhamar Aji Nugroho, turut serta dalam pelaksanaan kegiatan.

Menurut Dr. Dwi Aulia, program ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong masyarakat mengembangkan solusi pertanian yang murah, mudah diterapkan, dan tetap ramah lingkungan.

Baca Juga: Peringati Kemerdekaan, Warga Sleman Diajak Fun Walk Gratis Sepanjang Tiga Kilometer

"Kami melihat potensi besar ibu-ibu KWT untuk menjadi motor penggerak perubahan di komunitasnya. Harapannya, masyarakat mampu mengelola limbah menjadi produk bermanfaat, bahkan memiliki nilai ekonomi tambahan," jelasnya.

Program yang didukung hibah internal UPN "Veteran" Yogyakarta dengan nomor kontrak No. 332/UN62.21/AM.00.00/2026 ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Dengan pendampingan berkelanjutan, KWT diharapkan dapat melanjutkan dan menyebarluaskan praktik pengelolaan limbah organik di lingkungannya. Limbah yang selama ini terbuang pun bertransformasi menjadi sumber daya yang mendukung pertanian, ekonomi warga, sekaligus kelestarian alam. 

Kelompok Wanita Tani di Moyudan, Sleman, dilatih UPN Veteran Yogyakarta mengolah limbah dapur dan kotoran ternak menjadi pupuk hayati bernilai ekonomi. Pelatihan ini mendukung pertanian berkelanjutan dan membuka peluang pemasaran digital.

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Pelatihan pupuk organik Limbah dapur bernilai ekonomi KWT Moyudan Sleman Pengabdian masyarakat UPN Pertanian berkelanjutan Indonesia