Hasil Skrining Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Sleman Tunjukkan 449 Remaja Gejala Depresi Berat  

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Seruni Angreni Susila. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Seruni Angreni Susila. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

SLEMAN - Sebanyak 449 anak dan remaja di Kabupaten Sleman menunjukkan gejala depresi berat berdasarkan hasil skrining kesehatan jiwa. Temuan tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman karena skrining dilakukan terhadap kelompok usia sekolah yang berada pada rentang 10 tahun hingga 17 tahun.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Sleman Seruni Angreni Susila mengatakan, skrining dilakukan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan. Dari 18.945 anak dan remaja yang mengikuti skrining, sebanyak 2.029 orang atau 10,71 persen menunjukkan gejala kesehatan jiwa yang signifikan.

Baca Juga: Peserta Pawai Kulon Progo Melonjak Drastis akibat Minim Lomba Tingkat Kapanewon

"Ini sifatnya skrining, jadi masih berupa gejala, belum ke diagnosa akhir," kata Seruni saat dikonfirmasi Rabu (19/8).

Dari jumlah tersebut, skrining gejala depresi dilakukan terhadap 18.845 peserta. Hasilnya, 449 peserta menunjukkan gejala depresi berat. Sementara dari 18.912 peserta yang mengikuti skrining gejala kecemasan, sebanyak 398 orang menunjukkan gejala kecemasan berat.

Menurut Seruni, hasil skrining tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menemukan persoalan kesehatan mental sejak dini. Apalagi, perhatian masyarakat terhadap kesehatan jiwa saat ini semakin meningkat seiring membaiknya literasi mengenai persoalan tersebut.

Baca Juga: Hadirkan Saksi Ahli, Kubu Reno Sebut Persoalan TKD Gandok Sebatas Pelanggaran Administrasi

Selain itu, fasilitas deteksi dini juga semakin berkembang. Dinkes Sleman menggunakan instrumen standar berupa Heart Rate Variability (HRV) dalam proses skrining kesehatan.

"Kalau sekarang memang dicari untuk menemukan lebih dini. Jadi ada angkanya berapa yang depresi, berapa yang cemas," ujarnya.

Seruni menegaskan, hasil skrining tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan depresi maupun kecemasan. Peserta yang menunjukkan gejala memerlukan tindak lanjut dan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendapatkan diagnosis.

 

Kesehatan jiwa dan kondisi emosional anak serta remaja menjadi perhatian pemerintah daerah. Terlebih, kasus bunuh diri di Sleman hingga Agustus tahun ini tercatat mencapai 15 kasus. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu yang tercatat tujuh kasus.

 

Latar belakang kasus juga beragam, mulai dari persoalan keluarga hingga persoalan ekonomi dan terlilit pinjaman online. "Penguatan kesehatan mental jiwa menjadi perhatian serius di nasional maupun pemerintah kabupaten," tegasnya. (del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
skrining kesehatan jiwa gejala remaja depresi berat Dinkes Kabupaten Sleman