Adipapa Kefi Eko Tune pagi ini kembali menjalani rutinitasnya untuk berlari di jalanan Jogja. Lengkap memakai kaus jersi, smart watch, hingga membawa soft flask atau botol minum fleksibel khusus olahraga. Selintas aktivitasnya memang tak jauh beda dengan pelari lain, tetapi jika melihat di balik punggungnya ada gambar QRIS bertuliskan "Run For Flores (NTT)". Ini adalah upaya pribadinya untuk membantu mereka yang terdampak bencana gempa.
Sleman, Delima Purnamasari
"Saya juga pengen bantu, tapi saya bingung bantu dengan cara apa," kata pria yang akrab disapa Adi ini saat ditemui tengah berlari di seputaran Ring Road Utara, Rabu (19/8).
Adi adalah mahasiswa semester akhir Politeknik Kesehatan Permata Indonesia Yogyakarta. Dia berasal dari Kota Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sudah dua hari ini olahraga yang biasa dia jalani tidak sebatas untuk menyehatkan tubuh, tetapi juga sebagai gerakan penggalangan dana bagi korban yang terdampak gempa di NTT.
Ide gerakan ini dia buat dengan berlari seperti biasa, hanya saja sembari membawa gambar Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang bisa dipindai untuk menyalurkan dana. Kode batang ini bukan miliknya pribadi, tetapi milik Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (BEM KM FH UMY) yang juga tengah menggalang dana untuk tujuan serupa.
Baca Juga: Musik Ghibli Mendunia, Joe Hisaishi Raih 3 Rekor Guinness
"Saya sudah minta izin pakai barcode mereka untuk cari penggalangan dana dengan cara saya berlari aja," katanya.
Pria 22 tahun ini bercerita, berlari dipilih karena merupakan hobinya, sampai dia ikut jadi salah satu anggota komunitas pelari di Jogja. Dia ingin melakukan aktivitas yang disukai sambil membantu mereka yang tengah kesulitan menghadapi musibah. Aksi Run For Flores ini sudah dia lakukan dua hari ini dan akan dilakukan sampai 23 Agustus mendatang. Tanggal tersebut sesuai dengan penutupan penggalangan dana dari BEM KM FH UMY.
Dalam sehari Adi akan berlari 30 kilometer. Hari ini lari diawali dari indikosnya di Kalurahan Condongcatur, Kabupaten Sleman lalu berputar-putar sampai dengan Malioboro dan kembali lagi. Dia mulai lari dari pukul 06.00 hingga 10.00. Meski lelah, dia mengaku senang menjalani aktivitas ini.
Adi bercerita sangat bersyukur karena keluarganya yang di NTT tidak ikut terdampak bencana sehingga dia bisa fokus untuk menyelesaikan kuliahnya di Jogja. Lalu memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan semacam ini. Aksi ini adalah bentuk keprihatinannya melihat dampak gempa lewat media sosial.
"Saya hanya terpikirkan untuk coba aja bantu. Walaupun tidak seberapa, intinya bantu. Dengan seperti ini kadang orang gengsi ya, tapi saya pengin bantu," katanya.
Mahasiswa Jurusan Farmasi ini bercerita dalam dua hari ini sudah ada beberapa orang yang memintanya berhenti agar bisa memindai kode batang di punggungnya. Ada juga warga yang memberikan uang tunai sehingga nantinya dia ganti dengan uangnya pribadi untuk dikirim melalui QRIS tersebut. Adi mengaku tidak menargetkan jumlah donasi yang terkumpul, dia bahkan tak memantau persis apakah orang yang memintanya berhenti itu benar-benar berdonasi atau tidak.
"Terserah mereka. Intinya kalau mereka bantu ya bersyukur, kalau enggak bantu ya enggak apa-apa," ujarnya.
Baca Juga: Roberto Carlos Dikabarkan Jadi Mualaf, Belum Ada Konfirmasi Resmi
Adi turut berharap agar pemerintah benar-benar bisa memberikan bantuan optimal bagi masyarakat NTT yang terdampak. Baik itu dengan fasilitas pakaian ataupun pendanaan agar mereka bisa kembali bangkit dan dapat membangun rumah yang tuntuh.
"Harapannya mereka bisa kembali kayak semula. Ya kasihan juga mereka seperti ini," tandas Adi. (del)
Editor : Bahana.