SLEMAN - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai. Berdasarkan laporan pengamatan periode 17 Agustus 2026 pukul 00.00-24.00 WIB, gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu masih berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas Merapi sepanjang periode pengamatan ditandai dengan tingginya frekuensi kegempaan. Petugas mencatat 98 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-65 milimeter dan durasi 26,08 hingga 200,37 detik. Selain itu, terjadi 68 kali gempa hybrid atau fase banyak, empat kali gempa vulkanik dangkal, serta empat kali gempa tektonik jauh.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas permukaan Merapi juga memperlihatkan pergerakan material vulkanik. Petugas mengamati empat kali guguran lava ke arah barat daya, menuju kawasan Kali Sat/Putih. Jarak luncur maksimum tercatat mencapai 2.000 meter.
Gambaran ini menjadi pengingat bahwa Merapi masih menyimpan energi yang belum sepenuhnya mereda. Data pemantauan juga menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awan panas guguran, khususnya di wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona potensi bahaya.
Baca Juga: WNA Diajak Selami Kehidupan Masyarakat Lokal Jogja, Pemkot Bekali Kamwis Kemampuan Bahasa Asing
Secara visual, Merapi terpantau mulai dari kondisi jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat 0-III. Tidak teramati asap kawah selama periode pengamatan. Cuaca di sekitar puncak dilaporkan mendung dengan angin lemah bergerak ke arah barat. Suhu udara berkisar 17,2-24,2 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 89,9-99,4 persen.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di wilayah potensi bahaya. Pada sektor selatan-barat daya, potensi guguran lava dan awan panas dapat mengancam alur Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Sementara itu, sektor tenggara meliputi Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap lahar dan awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di kawasan Gunung Merapi. Gangguan akibat abu vulkanik juga perlu diantisipasi.
Baca Juga: Semarak Agustusan, 103 Kelompok Tani Terima Bantuan Alsintan di Pendopo Kabumian
Merapi memang tidak selalu memperlihatkan tanda-tanda yang dramatis. Namun, setiap guguran dan gempa menjadi bagian dari dinamika gunung api yang harus terus dipantau. Karena itu, masyarakat di sekitar Merapi diimbau mengikuti informasi resmi dari BPPTKG, PVMBG, dan instansi kebencanaan.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG