Persulit Akses dan Pinggirkan UMKM, Warga Tolak Pemasangan Pagar Besi di Sekitar Exit Tol Banyurejo 

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:48 WIB
Warga demo di Exit Tol Banyurejo menolak pemasangan pagar besi, Minggu (16/8) - Delima Purnamasari/Radar Jogja
Warga demo di Exit Tol Banyurejo menolak pemasangan pagar besi, Minggu (16/8) - Delima Purnamasari/Radar Jogja

SLEMAN - Sejumlah warga melakukan aksi demonstrasi di Exit Tol Banyurejo, Kalurahan Tambakrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman pada Minggu (16/8) pagi.

 Mereka membawa sejumlah spanduk protes dengan berbagai tulisan, seperti "Exit tol Dibangun Harus Menghidupkan Ekonomi Kami," lalu "Portal Besi di Exit Tol Mematikan UMKM Kami", hingga "Exit Tol Dibangun Jangan Mematikan Akses Petani dan Masyarakat."

Penanggung Jawab Aksi, Agus Wintolo menjelaskan, aksi ini diselenggarakan dalam rangka menolak pemasangan pagar besi di ruas jalan provinsi di depan exit tol sepanjang sekitar satu kilometer.

Dia memaklumi jika pagar dipasang di ramp off atau area keluar kendaraan dari exit tol, tetapi mempertanyakan jika sampai dipasang di sepanjang kanan dan kiri pintu tol. 

Baca Juga: Gempa M 7,7 Guncang NTT, Mahasiswa KKN UMY Beralih Jadi Relawan Kebencanaan

Lantaran di pinggiran jalan tersebut berdiri rumah-rumah warga. Pagar besi permanen ini dinilai sangat merugikan masyarakat utamanya karena akan mematikan UMKM warga sebelum berkembang. 

"Bagaimana mungkin dari pengendara di jalan utama ini akan turun ke rumah-rumah yang menjadikan UMKM karena malah dipagar besi," katanya ditemui di sela-sela aksi. 

Dia sebut, adanya pagar besi ini meniadakan janji bahwa exit tol akan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

Pagar besi ini juga akan mengganggu akses jalan kendaraan warga sekitar, terutama para petani atau truk pasir yang biasa memakai mobil dan truk. Lantaran hanya diberikan akses jalan tiga meter yang dia nilai menyulitkan jika kendaraan saling berpapasan. 

"Jadi dibuka jalan kecil, tapi di ujung selatan dan utara sana. Kami yang hidup di tengah-tengah exit tol kebingungan. Kalau nanti berpapasan mobil itu juga nggak bisa," keluhnya. 

Menurut Agus, dampak lebih lanjut dari pemasangan pagar ini adalah membuat harga tanah di seputar portal ini akan anjlok. Padahal, ini adalah aset yang penting bagi anak dan cucu mereka.

Berdasarkan informasi yang dia peroleh dari pengelola pembangunan, pagar ini berfungsi sebagai fasilitas pengamanan. Hanya saja dia harapa tetap bisa memperhatikan dampaknya bagi warga sekitar. 

"Kami masyarakat di sini itu terkurung dan terisolasi oleh portal besi itu. Jangan masyarakat itu dirugikan dan dimiskinkan," ujarnya. 

Sampai dengan saat ini, pemasangan pagar di sepanjang ruas Jalan Tempel-Dekso yang ditolak warga ini belum dibangun. Hanya saja Agus menyebut kepastiannya sudah disampaikan lewat sosialisasi pada sejumlah perwakilan masyarakat. Dia berharap agar nantinya proyek ini bisa dibatalkan. 

Baca Juga: Viral Diduga Klitih di Jalan Jogja-Solo, Polisi Sita Barang Bukti Berupa Stik Golf

Dikonfirmasi terpisah, General Affair PT Adhi Karya (Persero) Proyek Tol Jogja Bawen, Ghazali menjelaskan, terkait aspirasi yang disampaikan oleh warga tersebut sepenuhnya ada pada kewenangan pihak Jasa Marga. Dia sendiri tidak hadir saat aksi berlangsung. Giat warga tersebut dihadiri oleh petugas keamanan dari kepolisian. 

"Informasi yanga saya dapet pihak Jasamarga tadi juga tidak ada yang  hadir, mungkin karena hari libur," ujarnya. 

Radar Jogja telah menghubungi Humas PT Jasamarga Jogja-Bawen (JJB), Rizky Nugraha melalui pesan singkat maupun sambungan telepon. Hanya saja sampai dengan saat berita ini diunggah belum ada tanggapan yang diberikan. (del)

Editor : Bahana.
Kapanewon Tempel warga protes Sleman exit tol tempel