Merapi Kembali Gugurkan Awan Panas hingga 2 Kilometer, 19 Lava Meluncur ke Arah Barat Daya

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 04:05 WIB
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

 SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Dalam periode pengamatan Rabu (12/8/2026) pukul 00.00-24.00 WIB, satu kejadian awan panas guguran tercatat meluncur hingga sekitar 2 kilometer.

Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga. Kondisi tersebut membuat masyarakat di kawasan rawan bencana diminta tetap menjauh dari zona potensi bahaya.

Berdasarkan laporan aktivitas Gunungapi MAGMA-VAR yang disusun Tri Mujiyanta, awan panas guguran tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 49 milimeter dengan durasi 82,61 detik. Fenomena ini menjadi salah satu indikator penting bahwa aktivitas vulkanik Merapi masih berlangsung.

Secara visual, Merapi terpantau jelas. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih terlihat dengan intensitas sedang hingga tinggi. Ketinggiannya mencapai sekitar 25-650 meter di atas puncak kawah.

Baca Juga: Roket Air dari Botol Plastik Antar Siswa SMPN 2 Borobudur ke Kompetisi Internasional di Malaysia

Aktivitas guguran lava juga masih terjadi. Sepanjang periode pengamatan, tercatat 19 kali guguran lava yang meluncur ke arah barat daya, terutama menuju kawasan Kali Sat atau Kali Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum mencapai 2 kilometer.

Dari sisi kegempaan, aktivitas Merapi juga cukup ramai. Selain satu awan panas guguran, tercatat 86 kali gempa guguran. Kemudian 86 gempa hybrid atau fase banyak dan 11 gempa vulkanik dangkal turut terdeteksi selama periode pengamatan.

Kondisi meteorologi di sekitar gunung juga berubah-ubah. Cuaca tercatat cerah, berawan hingga mendung dengan angin lemah yang bergerak ke arah barat. Suhu udara berada pada kisaran 14,8-26,5 derajat Celsius, sedangkan kelembapan mencapai 84,4-89,2 persen.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memicu kembali awan panas guguran, terutama di kawasan yang masuk dalam zona bahaya.

Baca Juga: Perkuat Operasional TPS3R Lohjinawi, Borobudur Mulai Benahi Sampah dari Desa

Potensi ancaman saat ini terutama berada di sektor selatan-barat daya. Wilayah Sungai Boyong memiliki potensi bahaya hingga 5 kilometer, sedangkan Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di wilayah-wilayah tersebut. Ancaman juga dapat meningkat ketika hujan turun karena material vulkanik yang berada di lereng dapat terbawa menjadi lahar.

Warga juga diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat abu vulkanik apabila terjadi erupsi. Jika aktivitas Gunung Merapi berubah secara signifikan, statusnya akan ditinjau kembali oleh pihak berwenang.

Gunung Merapi dengan ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut tetap menjadi perhatian serius bagi masyarakat di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten. Kewaspadaan menjadi langkah penting, terutama bagi warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu di Merapi.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
merapi siaga Sleman Gunung Merapi awan panas guguran Erupsi Merapi