Jika Kondisi Makin Parah, Pemkab Sleman Akan Perpanjang Status Siaga Darurat Kekeringan

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:30 WIB
SIAGA: Perwakilan organisasi perangkat daerah Pemkab Sleman saat menjelaskan terkait ancaman musim kemarau Selasa (11/8). (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
SIAGA: Perwakilan organisasi perangkat daerah Pemkab Sleman saat menjelaskan terkait ancaman musim kemarau Selasa (11/8). (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

SLEMAN - Pemkab Sleman akan memperpanjang status siaga darurat kekeringan di tengah ancaman musim kemarau yang berpotensi semakin panjang. Langkah tersebut diambil menyusul peringatan BMKG terkait peluang El Nino kategori kuat pada Agustus hingga Desember 2026 yang dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang musim kemarau di DIY.

Pemkab Sleman sebelumnya menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak 1 Juli hingga 31 Agustus 2026. Status tersebut masih dapat ditingkatkan menjadi tanggap darurat apabila kondisi kekeringan semakin parah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, kondisi kekeringan saat ini masih terkendali. Namun, pemerintah tetap akan memperpanjang status siaga darurat untuk mengantisipasi kondisi yang memburuk. "Kami tetap akan memperpanjang statusnya sebagai siaga darurat kekeringan," katanya dalam jumpa pers Selasa (11/8).

Baca Juga: Pasca-Polemik RMB, PSIM Jogja Belum Kunci Apparel Musim Baru, Brand Lokal hingga Internasional Masih

Bambang mengatakan, Pemkab Sleman juga telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 25 juta untuk kebutuhan droping air. Anggaran tersebut jika dikonversikan setara dengan sekitar 50 tangki air.

Meski demikian, anggaran tersebut hingga kini belum digunakan. Sebab, kebutuhan droping air yang dilakukan masih mendapat dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dan instansi lain.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kapanewon Turi. Menurut Bambang, persoalan pasokan air di wilayah tersebut telah terjadi sejak April lalu.

Baca Juga: Gelombang Empat Meter Terjang Kios hingga 30 Meter dari Bibir Pantai di Kebumen

Saat itu, meski masih memasuki musim hujan, pemerintah masih melakukan droping air karena aliran air tersumbat material yang runtuh. Setelah dilakukan perbaikan, aliran kembali lancar. Namun, persoalan kembali muncul saat memasuki musim kemarau karena debit air berkurang.

Selain Turi, persoalan aliran air juga sempat terjadi di Kapanewon Moyudan akibat kerusakan pompa. Namun, pompa tersebut kini telah diperbaiki sehingga persoalan pasokan air di wilayah tersebut telah teratasi.

Terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Mamenun mengimbau pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau. Terutama di wilayah yang rentan mengalami kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih.

"Hal ini berkaitan dengan aktivitas El Nino kategori kuat berpeluang terjadi pada Agustus sampai dengan Desember," katanya.

Menurut Mamenun, kondisi tersebut berpotensi mengurangi curah hujan sekaligus memperpanjang periode musim kemarau di wilayah DIJ. Bahkan, potensi kekeringan meteorologis pada dasarian II Agustus 2026 berada dalam status awas di seluruh wilayah DIJ. "Masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mengantisipasi kondisi tersebut melalui pengelolaan sumber daya air secara efisien," katanya. (del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Status Siaga Darurat Kekeringan kemarau curah hujan Pemkab Sleman BMKG