Gunung Merapi Kembali Muntahkan Awan Panas, 7 Guguran Lava Meluncur ke Kali Boyong

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:40 WIB
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

 SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan tanda-tanda dinamika yang perlu diwaspadai. Dalam periode pengamatan Senin (10/8/2026) pukul 00.00-24.00 WIB, gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu tercatat mengalami dua kali awan panas guguran.

Aktivitas tersebut menjadi salah satu indikator bahwa proses di dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung. Status Merapi hingga kini tetap berada pada Level III atau Siaga.

Berdasarkan laporan MAGMA-VAR yang bersumber dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Geologi, PVMBG, serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), dua awan panas guguran yang terjadi memiliki amplitudo 66-74 milimeter dengan durasi sekitar 80 hingga 135 detik.

Selain awan panas guguran, aktivitas kegempaan Merapi juga cukup ramai. BPPTKG mencatat sebanyak 80 kali gempa guguran, dengan amplitudo 2-120 milimeter dan durasi 28 hingga 164 detik.

Baca Juga: Ada IoT, 5G hingga Fiber Optik, DRPD Kebumen Bahas Raperda Infrastruktur Pasif Telekomunikasi

Kemudian terjadi 70 kali gempa hybrid atau fase banyak, tujuh kali gempa vulkanik dangkal, serta lima kali gempa tektonik jauh.

Rangkaian aktivitas tersebut menggambarkan bahwa Merapi belum benar-benar tenang. Suplai magma masih berlangsung dan kondisi itu berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran, terutama di kawasan yang masuk dalam zona bahaya.

Di permukaan, Merapi sempat terlihat jelas meski pada beberapa waktu tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah juga teramati berwarna putih dengan intensitas tipis. Kepulan asap tersebut mencapai ketinggian sekitar 300 meter di atas puncak kawah.

Yang juga perlu menjadi perhatian adalah aktivitas guguran lava. Dalam satu hari pengamatan, tercatat tujuh kali guguran lava meluncur ke arah Kali Boyong. Jarak luncur terjauh mencapai sekitar 1.900 meter.

Baca Juga: Baperjakat Dinilai Tak Pertimbangkan Psikologis ASN IV/b, Dewan Minta Pengangkatan Atik Ditinjau

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa lereng Merapi masih menyimpan potensi bahaya. Terlebih ketika hujan turun di sekitar puncak dan lereng gunung.

BPPTKG menyebut potensi bahaya guguran lava dan awan panas berada terutama di sektor selatan-barat daya. Kawasan yang perlu diwaspadai mencakup alur Sungai Boyong hingga lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer.

Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.

Ancaman lain juga tetap ada jika terjadi letusan eksplosif. Lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius sekitar tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Baca Juga: Paskibra di 26 Kecamatan di Kebumen Disiapkan Fisik dan Mental Bertugas di Hari Kemerdekaan

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan potensi bahaya. Warga juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap lahar dan awan panas guguran, khususnya ketika hujan mengguyur kawasan Merapi.

Abu vulkanik juga perlu diantisipasi karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, maupun perjalanan apabila terjadi erupsi yang menghasilkan sebaran abu.

Dengan status Gunung Merapi Level III (Siaga), kewaspadaan tetap menjadi kunci. Perubahan aktivitas yang signifikan akan menjadi dasar bagi evaluasi kembali tingkat aktivitas Merapi oleh pihak berwenang.

Bagi masyarakat di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, informasi resmi dari BPPTKG dan PVMBG penting untuk terus dipantau. Jangan mendekati zona bahaya hanya karena kondisi puncak Merapi terlihat tenang, sebab aktivitas vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu.

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Gunung Merapi hari ini Sleman Merapi Hari Ini Merapi gunung